Rupiah Melemah, Pengusaha Tempe Jambi Waspadai Lonjakan Harga Bahan Baku

Kedelai Untuk Bahan Pembuatan Tahu
INDOSBERITA.ID.JAMBI –
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dikhawatirkan para pelaku usaha kecil di Kota Jambi, terutama produsen tempe dan tahu yang bergantung pada bahan baku impor.
Salah satunya dirasakan Fauzan Mahbub, produsen tempe dan tahu di Jalan Fatahillah, RT 23, Kelurahan Rajawali, Kecamatan Jambi Timur. Meski pasokan kedelai saat ini masih aman, ia mengaku belum bisa memastikan dampak kenaikan dolar terhadap harga bahan baku dalam beberapa hari mendatang.
“Kita masih lihat perkembangan dua sampai tiga hari ke depan. Biasanya pengaruh ke harga kedelai itu cepat,” ujar Fauzan saat ditemui di rumah produksinya, Minggu (17/5/2026).
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan terus melemah hingga menembus level Rp17.500 per dolar AS. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu kenaikan harga barang impor, termasuk kedelai.
Fauzan mengatakan, bahan baku kedelai yang digunakan para produsen tempe dan tahu di Jambi sebagian besar berasal dari impor negara-negara Amerika Selatan seperti Argentina dan Brasil.
Menurut dia, produksi kedelai dalam negeri hingga kini belum mampu memenuhi kebutuhan industri pengolahan tahu dan tempe.
“Bukan murni dari Amerika Serikat, tapi dari negara-negara di Amerika Selatan dan sekitarnya,” katanya.
Ia mengungkapkan, harga kedelai terus mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir. Jika pada Desember 2025 harga kedelai masih berkisar Rp9 ribu per kilogram, kini harganya sudah menyentuh sekitar Rp11 ribu per kilogram.
“Sekarang sudah Rp10.900 sampai Rp11 ribuan per kilogram,” ujarnya.
Kenaikan harga bahan baku hampir 20 persen tersebut membuat pelaku usaha terpaksa menyesuaikan harga jual produk mereka.
Harga tahu yang sebelumnya dijual sekitar Rp650 per potong kini naik menjadi Rp700 per potong. Sementara harga tempe yang sebelumnya Rp7 ribu per potong kini menjadi Rp8 ribu.
Setiap hari, usaha milik Fauzan memproduksi sekitar 500 kilogram tahu. Sedangkan produksi tempe mencapai sekitar 350 kilogram per hari dan dikelola bersama keluarganya.
“Kalau tempe itu usaha keluarga, adik saya yang mengelola,” katanya.
Fauzan berharap pemerintah dapat mencari solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap kedelai impor, salah satunya melalui program swasembada kedelai nasional.
“Kalau bisa memang swasembada kedelai. Tapi selama ini sudah sering diupayakan dan belum berhasil,” ucapnya.
Ia menambahkan, saat ini terdapat sekitar 120 kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari usaha tempe dan tahu di Kota Jambi. Khusus di Kelurahan Rajawali, jumlah produsen diperkirakan mencapai sekitar 40 kepala keluarga.



