Proyek Sampah Jadi Energi Buka 130 Ribu Lapangan Kerja, Denera Gandeng Daerah

Proyek Sampah Jadi Energi Buka 130 Ribu Lapangan Kerja, Denera Gandeng Daerah

Ilustrasi – Petugas melakukan aktivitas di pusat pengolahan sampah. ANTARA/HO-Danantara Indonesia

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) menargetkan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar melalui proyek Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Perusahaan juga memprioritaskan tenaga kerja lokal pada tahap pembangunan dan operasional fasilitas tersebut.

Chief Executive Officer Denera, Fadli Rahman, mengatakan perusahaan terus memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah. Denera juga menggandeng berbagai pihak di tingkat lokal. Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan proyek Waste-to-Energy (WtE).

“Kami memastikan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pihak lokal berjalan dengan baik, termasuk memaksimalkan penggunaan tenaga kerja lokal,” ujar Fadli dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Denera merupakan bagian dari ekosistem Danantara Indonesia. Perusahaan memperkirakan setiap proyek PSEL membutuhkan 500 hingga 1.000 pekerja selama tahap konstruksi.

Danantara berencana membangun 33 fasilitas PSEL di berbagai wilayah Indonesia. Seluruh proyek itu diperkirakan menyerap sekitar 130 ribu tenaga kerja. Jumlah tersebut mencakup tahap pembangunan hingga operasional.

Pengelolaan Sampah Jadi Tantangan Jangka Panjang

Fadli menilai persoalan sampah telah berkembang menjadi tantangan jangka panjang. Menurutnya, persoalan itu ikut memengaruhi kualitas hidup masyarakat.

Karena itu, Fadli mengajak seluruh elemen masyarakat berperan aktif dalam mengurangi timbunan sampah. Upaya tersebut dapat dimulai dari rumah tangga hingga kawasan industri.

Ia mengatakan kebiasaan memilah sampah sejak dari sumber sangat penting. Langkah sederhana itu dapat mendukung sistem pengelolaan sampah modern yang berbasis teknologi.

“Mari kita bersama-sama mendukung setiap upaya yang dapat menjadi solusi bagi persoalan sampah di Indonesia,” kata Fadli.

Warga Perlu Terlibat Sejak Tahap Perencanaan

Sementara itu, Sustainability Provocateur sekaligus Founder Social Investment Indonesia, Jalal, menekankan pentingnya budaya pemilahan sampah. Menurutnya, langkah tersebut harus berjalan seiring dengan pembangunan fasilitas Waste-to-Energy.

Jalal menjelaskan sebagian besar sampah di Indonesia mengandung bahan organik dengan kadar air tinggi. Kondisi itu membuat proses pemilahan menjadi tahap yang sangat penting sebelum pengolahan.

Ia juga mendorong pelibatan masyarakat sejak awal perencanaan proyek. Warga perlu mengetahui perkembangan proyek secara terbuka. Mereka juga harus memperoleh manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan.

“Partisipasi masyarakat bukan sekadar formalitas dalam proses perizinan. Warga sekitar harus dilibatkan sejak tahap perencanaan. Mereka juga perlu mendapatkan akses terhadap informasi emisi secara terbuka. Selain itu, warga harus memperoleh manfaat nyata dari proyek yang dibangun. Tanpa itu, WtE berpotensi kehilangan legitimasi sosial yang menjadi fondasi keberlanjutannya,” ujar Jalal.

Sumber:Antara

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *