Karhutla Mengancam Lahan Gambut Sumatera, Tim Gabungan Bergerak Cepat Padamkan Api

Karhutla Mengancam Lahan Gambut Sumatera, Tim Gabungan Bergerak Cepat Padamkan Api

Karhutla Sumatera Masih Berkobar, Tim Gabungan Fokus Lokalisir dan Padamkan Titik Api

INDOSBERITA.ID.RIAU – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera terus dilakukan secara intensif sejak perayaan Hari Raya Idul Adha pada 27 Mei lalu. Meski dihadapkan pada kondisi medan yang berat serta angin kencang, tim Manggala Agni tetap berupaya maksimal untuk menghentikan laju perambatan api agar tidak meluas dan merusak ekosistem hutan.

Koordinator lapangan Ferdian menyampaikan bahwa prioritas utama saat ini adalah melakukan pemadaman lanjutan sekaligus membuat sekat bakar di area terdampak. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan api dapat dikendalikan di satu titik. Ia juga menambahkan bahwa operasi di darat turut diperkuat dengan dukungan water bombing dari satuan tugas udara.

“Fokus kami adalah memastikan api tidak menyebar lebih jauh. Personel di lapangan dibantu armada udara untuk mempercepat proses pemadaman,” ujar Ferdian.

Di wilayah lain, satu regu Manggala Agni Daops Sumatera III Labuhanbatu juga dikerahkan untuk membantu pemadaman karhutla di Desa Pasir Limau Kapas, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir. Keterlibatan tim ini merupakan respons cepat terhadap kemunculan titik api yang dikhawatirkan dapat meluas dan mengganggu aktivitas masyarakat serta lingkungan sekitar.

Tim gabungan yang turun ke lokasi bekerja langsung di lapangan untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak muncul kembali. Upaya ini dilakukan secara terpadu bersama berbagai unsur terkait demi mempercepat penanganan.

Sementara itu, Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera juga mengirimkan dua tim Manggala Agni Daops Sumatera VII Rengat ke dua lokasi berbeda, yakni Desa Sokoi di Kecamatan Kuala Kampar dan Pulau Mendol di Kabupaten Pelalawan. Kedua wilayah tersebut diketahui memiliki karakteristik lahan gambut yang dalam dan sangat rentan terbakar saat musim kemarau.

Ferdian menjelaskan bahwa pengerahan dua tim tersebut dilakukan setelah terdeteksi adanya titik panas di wilayah rawan tersebut. Ia menyebutkan bahwa perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu sekitar delapan jam melalui jalur darat dan air.

“Strategi kami adalah membagi kekuatan agar pemadaman bisa dilakukan serentak di dua titik. Target awal adalah melokalisasi api agar tidak menjalar ke area perkebunan warga,” jelasnya.

Kondisi lapangan yang sulit, cuaca panas, serta akses yang terbatas menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Namun demikian, seluruh personel tetap mengutamakan keselamatan kerja sambil memastikan proses pemadaman berjalan efektif.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tingkat kekeringan bahan bakar ringan di permukaan atau Fine Fuel Moisture Code (FFMC) di Provinsi Riau dan sejumlah wilayah Sumatera lainnya berada pada kategori ekstrem. Kondisi ini menunjukkan bahwa material kering sangat mudah terbakar dan memperbesar risiko terjadinya karhutla dalam waktu singkat.

BMKG juga mengingatkan bahwa situasi tersebut memerlukan kewaspadaan tinggi dari seluruh pihak. Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan jika menemukan titik api di sekitar wilayahnya.

Sumber:Kemenhut

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *