Istana Buka Suara Soal Banyaknya Kunjungan Prabowo ke Luar Negeri

Istana Buka Suara Soal Banyaknya Kunjungan Prabowo ke Luar Negeri

Presiden Prabowo Saat Tiba di Pariw Prancis,13 Juli 2025.

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memberikan penjelasan terkait tingginya frekuensi kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri dalam 1,5 tahun masa kepemimpinannya. Menurutnya, agenda perjalanan tersebut tidak dapat dipandang hanya dari jumlah kunjungan, melainkan bagian dari strategi diplomasi yang menyesuaikan dinamika global.

Teddy menjelaskan bahwa jadwal kunjungan Presiden ke luar negeri sebagian besar telah di rencanakan jauh hari sebelumnya, bahkan hingga satu tahun sebelum pelaksanaan. Namun, dalam kondisi tertentu, terdapat pula agenda yang bersifat mendesak mengikuti perkembangan situasi internasional yang sangat dinamis.

“Jadwal harus satu tahun sebelumnya. Perkembangan dunia global itu sangat dinamis, hari per hari. Jadi ada jadwal tahunan dan ada juga yang bersifat mendesak sesuai kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri,” ujar Teddy dalam keterangannya melalui unggahan video Sekretariat Kabinet, Senin (1/6/2026).

Ia menambahkan, pada awal masa jabatannya, Presiden Prabowo di hadapkan pada berbagai krisis global, mulai dari konflik di Ukraina, ketegangan Venezuela–Amerika Serikat, hingga situasi di Timur Tengah. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut intensitas diplomasi yang lebih aktif.

Teddy menegaskan bahwa kunjungan luar negeri Presiden tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan bagian dari upaya membangun hubungan jangka panjang dengan para pemimpin dunia.

“Setiap pemimpin harus membangun kedekatan dengan pemimpin negara lain. Kita tidak bisa menunggu krisis baru kemudian membangun hubungan. Hubungan itu harus di pelihara sejak awal,” katanya.

Ia juga membantah anggapan bahwa kunjungan tersebut hanya bersifat simbolis. Menurutnya, sejumlah capaian konkret telah di hasilkan dari di plomasi Indonesia di berbagai forum internasional, meski tidak seluruhnya selalu di publikasikan secara luas.

Lebih lanjut, Teddy menekankan bahwa hubungan antarnegara tidak hanya di bangun melalui pertemuan resmi, tetapi juga melalui komunikasi personal antar pemimpin yang menjadi bagian dari praktik diplomasi modern.

“Di sinilah pentingnya kedekatan personal dan emosional antar pemimpin, baik dalam pertemuan terbuka maupun tertutup. Itulah esensi diplomasi,” ujarnya.

Pemerintah menilai, pendekatan tersebut penting untuk menjaga posisi Indonesia dalam percaturan global yang terus berubah, sekaligus memperkuat kerja sama internasional di berbagai sektor.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *