Efek Daya Beli Melemah, Penjualan Rumah Baru di Balikpapan Merosot Drastis

Foto: mnews
INDOSBERITA.ID.BALIK PAPAN – Pasar properti residensial primer di Kota Balikpapan menghadapi fenomena yang tidak biasa pada awal 2026. Saat harga rumah terus mengalami kenaikan, aktivitas transaksi justru merosot tajam hingga menyentuh titik terendah dalam dua tahun terakhir.
Data terbaru dari Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan menunjukkan bahwa Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I-2026 mencapai 107,67. Angka tersebut mencerminkan kenaikan harga rumah sebesar 1,44 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0,43 persen pada kuartal sebelumnya.
Namun di balik kenaikan harga tersebut, pasar justru kehilangan tenaga. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, hanya 72 unit rumah baru yang berhasil terjual di Balikpapan. Angka ini turun drastis 55,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang masih mampu membukukan penjualan 162 unit.
Penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa pasar properti di kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) masih menghadapi tantangan besar. Bahkan, kontraksi pada awal tahun ini lebih dalam dibandingkan triwulan IV-2025 yang mencatat penurunan penjualan sebesar 42,79 persen secara tahunan.
Segmen rumah kecil menjadi yang paling terdampak. Penjualan rumah tipe ini anjlok hampir 67 persen, dari 109 unit pada triwulan I-2025 menjadi hanya 36 unit pada triwulan I-2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa kelompok konsumen dengan daya beli menengah ke bawah masih menahan keputusan untuk membeli rumah.
Sementara itu, rumah tipe besar juga mengalami tekanan dengan penjualan turun 40,62 persen menjadi 19 unit. Adapun rumah tipe menengah mencatat penurunan yang lebih moderat sebesar 19,05 persen menjadi 17 unit.
Meski demikian, rumah tipe kecil tetap menjadi tulang punggung pasar residensial Balikpapan dengan kontribusi 50 persen dari total transaksi. Pangsa pasar berikutnya ditempati rumah tipe besar sebesar 26 persen dan rumah tipe menengah sebesar 24 persen.
Kondisi ini menggambarkan adanya jurang antara pergerakan harga dan daya serap pasar. Di satu sisi, harga properti terus meningkat, namun di sisi lain masyarakat tampak lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian, sehingga volume transaksi terus melemah.
Sebagai salah satu kota utama penyangga IKN, perkembangan pasar properti Balikpapan menjadi perhatian penting bagi pelaku usaha, investor, dan pemerintah. Perlambatan yang terjadi saat ini dapat menjadi indikator bahwa ekspektasi pertumbuhan sektor perumahan belum sepenuhnya sejalan dengan kondisi riil permintaan di lapangan.
Fenomena harga yang naik di tengah penjualan yang turun juga menjadi sinyal bahwa pasar properti Balikpapan sedang memasuki fase penyesuaian, di mana pelaku industri perlu mencari strategi baru untuk mengembalikan minat beli masyarakat.



