Wihaji Sebut Faktor Ekonomi Picu Risiko Stunting

Wihaji Sebut Faktor Ekonomi Picu Risiko Stunting

Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (paling kiri) ditemui usai meninjau keluarga berisiko stunting di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Rabu (4/3/2026). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari.

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, menilai persoalan ekonomi masih menjadi faktor dominan yang membuat keluarga masuk kategori berisiko stunting.

Hal tersebut disampaikannya saat meninjau langsung satu keluarga dengan lima anak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dalam kunjungan itu, ia mendapati anak pertama yang berusia 14 tahun terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan biaya.

Menurut Wihaji, beban ekonomi yang berat kerap dipicu kurangnya perencanaan keluarga. Ia menyoroti penggunaan kontrasepsi jangka pendek yang dinilai kurang efektif sehingga berulang kali terjadi kehamilan yang tidak direncanakan.

Karena itu, ia menekankan pentingnya edukasi mengenai Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Ia menegaskan bahwa program keluarga berencana tidak semata soal alat kontrasepsi, melainkan tentang bagaimana merencanakan masa depan keluarga secara menyeluruh, termasuk memastikan hak pendidikan dan kesehatan anak terpenuhi.

Selain edukasi, pemerintah juga terus melakukan intervensi pemenuhan gizi melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, Wihaji mengingatkan bahwa stunting tidak hanya dipengaruhi asupan makanan, melainkan juga faktor sanitasi, akses air bersih, serta kondisi tempat tinggal.

Dalam peninjauan tersebut, ia menemukan kondisi rumah yang kurang layak, seperti fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) yang menyatu dengan dapur dan struktur rumah yang terbuka. Untuk itu, Kemendukbangga/BKKBN bersama sejumlah pihak menyalurkan bantuan bedah rumah senilai Rp25 juta dan Rp50 juta kepada dua keluarga berisiko stunting di Kecamatan Cipanas.

Wihaji menegaskan pemerintah akan terus memprioritaskan keluarga dengan kondisi paling mendesak. Ia meyakini upaya menyelamatkan satu anak dari risiko stunting berarti menjaga masa depan satu generasi.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *