Rupiah Berpotensi Melemah, Target Ekonomi 6 Persen Jadi Sorotan Fitch

Pegawai menunjukan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Senin (18/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Nilai tukar rupiah berpotensi kembali tertekan pada perdagangan Rabu (26/8/2026). Pada perdagangan sehari sebelumnya, rupiah bergerak fluktuatif dan berakhir melemah tipis 2 poin ke level Rp17.723 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, melihat sentimen domestik dan global masih akan menentukan arah pergerakan rupiah.
“Untuk perdagangan (25/8) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp17.720-Rp17.770,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (25/8).
Salah satu perhatian pasar datang dari Fitch Ratings yang menyoroti prospek ekonomi dan kondisi fiskal Indonesia pada 2027. Fitch menilai target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027 lebih realistis daripada ambisi pemerintah mencapai pertumbuhan 8 persen dalam jangka menengah.
Meski demikian, proyeksi Fitch masih menempatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di sekitar 5 persen pada 2027.
“Terdapat sejumlah risiko yang dapat memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan,” ujar Ibrahim.
Risiko Global Masih Membayangi
Sejumlah faktor global dapat menekan prospek ekonomi Indonesia. Ketidakpastian geopolitik, potensi kenaikan harga minyak dunia, serta perlambatan ekonomi negara-negara mitra dagang utama menjadi perhatian investor.
Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi sentimen pasar keuangan dan meningkatkan tekanan terhadap rupiah.
Dari sisi fiskal, pemerintah memasang target defisit anggaran 2027 sebesar 2,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka itu lebih rendah dibandingkan target defisit 2026 sebesar 2,85 persen.
Target tersebut menunjukkan upaya pemerintah menjaga defisit tetap di bawah batas legal 3 persen terhadap PDB.
Namun, Fitch melihat pemerintah menghadapi tantangan dalam mempertahankan konsolidasi fiskal. Lembaga pemeringkat itu menyoroti pola penyusunan anggaran sebelumnya ketika pemerintah menaikkan target defisit setelah menghadapi kebutuhan belanja tambahan.
Risiko serupa juga dapat muncul pada 2027. Perlambatan ekonomi atau kebutuhan memberikan dukungan lebih besar kepada masyarakat berpotensi mendorong pemerintah menambah belanja.
Asumsi Rupiah Rp17.500 per Dolar
Fitch juga menilai sejumlah asumsi makroekonomi dalam RAPBN 2027 cukup optimistis. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen sekaligus menggunakan asumsi nilai tukar Rp17.500 per dolar AS.
Angka tersebut menjadi perhatian karena pergerakan rupiah saat ini masih berada di atas asumsi tersebut.
Selain nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi, kapasitas penerimaan negara juga menjadi tantangan. Pemerintah memperkirakan penerimaan negara pada 2027 berada sedikit di atas 12 persen terhadap PDB.
Kondisi tersebut membuat kemampuan pemerintah memperluas ruang fiskal tetap menjadi perhatian investor. Perkembangan kebijakan fiskal dan sentimen global pun berpotensi menentukan arah rupiah dalam perdagangan selanjutnya.



