Investor Kembali Cemas, Harga Emas Merosot Tajam 2,2 Persen

Investor Kembali Cemas, Harga Emas Merosot Tajam 2,2 Persen

Harga Emas Anjloj,Foto Istimewa

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Harga emas merosot tajam pada perdagangan Jumat (4/9/2026). Data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang melampaui perkiraan membuat investor kembali memperhitungkan peluang Federal Reserve atau The Fed menaikkan suku bunga pada September.

Melansir CNBC, Sabtu (5/9/2026), harga emas spot turun 2,2 persen menjadi US$4.376,04 per ons. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga melemah 2,4 persen menjadi US$4.428,80 per ons.

Penurunan tersebut membawa emas menuju kerugian mingguan sekitar 1 persen.

Lapangan Kerja AS Tumbuh Kuat

Data terbaru menunjukkan perusahaan di AS menambah lapangan kerja secara signifikan sepanjang Agustus. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran tetap berada di level 4,1 persen.

Kombinasi pertumbuhan pekerjaan yang kuat dan tingkat pengangguran yang stabil memberikan gambaran bahwa pasar tenaga kerja AS masih solid.

Kondisi tersebut membuat investor memperkuat perkiraan terhadap langkah The Fed pada pertemuan kebijakan 15-16 September.

Peluang Kenaikan Bunga The Fed Meningkat

Pasar kontrak berjangka suku bunga jangka pendek kini mencerminkan peluang sekitar 65 persen bagi kenaikan suku bunga AS pada September.

Sebelum laporan ketenagakerjaan keluar, pasar hanya memperkirakan peluang tersebut sekitar 55 persen.

Analis independen Tai Wong mengatakan data pekerjaan yang kuat langsung memberikan tekanan besar terhadap emas. Menurutnya, peluang kenaikan suku bunga pada September akan semakin besar jika data inflasi berikutnya tidak menunjukkan pelemahan.

Dolar AS Ikut Menekan Harga Emas

Penguatan dolar AS turut memperberat tekanan terhadap harga emas. Kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS juga membuat investor semakin mempertimbangkan kembali posisi mereka di logam mulia.

Emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi. Karena itu, ketika yield obligasi meningkat, investor memiliki alasan lebih kuat untuk mengalihkan dana ke aset yang menawarkan keuntungan berbasis bunga.

Tekanan terhadap emas pun semakin terasa setelah pasar memperkirakan The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi.

Data Inflasi Jadi Perhatian Berikutnya

Investor kini mengalihkan perhatian ke data inflasi AS yang akan keluar pekan depan. Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) akan menjadi dua indikator penting bagi pasar.

Data inflasi yang tetap tinggi bisa memperkuat peluang kenaikan suku bunga The Fed. Sebaliknya, inflasi yang melandai bisa mengurangi tekanan terhadap emas dan membuka peluang pemulihan harga.

Kepala analis pasar di Bybit, Han Tan, mengatakan laporan pekerjaan terbaru memperkuat ruang bagi The Fed untuk melanjutkan kebijakan suku bunga ketat.

Menurut Han, data CPI AS pekan depan berpotensi memicu pergerakan besar pada pasar logam mulia karena investor akan kembali menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan moneter.

Perak hingga Paladium Ikut Tertekan

Tekanan jual juga melanda logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 3 persen menjadi US$64,92 per ons.

Harga platinum turut melemah 2 persen menjadi US$1.789,67 per ons. Sementara itu, paladium turun 1,7 persen menjadi US$1.396,50 per ons.

Ketiga logam tersebut juga menuju penurunan mingguan.

Pasar logam mulia kini menghadapi dua faktor utama, yakni arah suku bunga The Fed dan perkembangan inflasi AS. Investor akan mencermati kedua indikator tersebut untuk menentukan apakah harga emas dan logam mulia lainnya mampu kembali menguat atau justru melanjutkan tekanan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *