Harga Sawit Anjlok, Warga Mukomuko Beralih Cari Pinang Demi Bertahan Hidup

Harga Sawit Anjlok, Warga Mukomuko Beralih Cari Pinang Demi Bertahan Hidup

Ilustrasi – Penjemuaran Pinang di Desa Sabak Ilir, Muara Sabak, Tanjung Jabung Timur

INDOSBERITA.ID.MUKO-MUKO – Penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dalam beberapa waktu terakhir mulai memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di Kabupaten Mukomuko. Salah satu yang paling terasa adalah berkurangnya minat warga dalam mencari brondolan sawit sebagai sumber penghasilan tambahan.

Jika sebelumnya kegiatan mengumpulkan brondolan sawit banyak dilakukan, terutama oleh ibu rumah tangga di sekitar perkebunan, kini aktivitas tersebut mulai ditinggalkan secara bertahap. Sebagian warga beralih mencari komoditas lain yang dinilai lebih menguntungkan di tengah melemahnya harga sawit.

Saat ini, harga TBS di tingkat petani dilaporkan turun hingga berada di bawah Rp2.000 per kilogram. Kondisi tersebut turut menekan harga brondolan sawit yang ikut merosot di pasaran, sehingga pendapatan para pencari brondolan ikut menurun.

Seorang warga Kecamatan Air Manjuto, Manisem, mengaku kini lebih memilih mengumpulkan buah pinang sebagai sumber penghasilan sementara.

“Untuk sementara ini saya cari buah pinang dulu, karena harga brondolan sawit sedang turun,” ujarnya, Senin (25/5/2026).Dikutip dari Radar Muko-Muko

Menurutnya, harga pinang kupasan di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp10 ribu per kilogram. Nilai tersebut dianggap lebih stabil dan cukup membantu kebutuhan rumah tangga dibandingkan hasil dari brondolan sawit yang semakin tidak menentu.

Selain harga yang lebih menjanjikan, proses penjualan pinang juga dinilai lebih mudah karena biasanya pengepul datang langsung ke rumah warga untuk membeli hasil panen.

Meski begitu, kedua jenis pekerjaan ini tetap memiliki tantangan masing-masing. Menurut Manisem, mencari brondolan sawit memang tidak membutuhkan proses tambahan karena bisa langsung dijual. Namun, jarak tempuh yang cukup jauh hingga belasan kilometer menjadi kendala tersendiri bagi para pencari.

Sementara itu, buah pinang relatif lebih mudah ditemukan di kebun-kebun sekitar permukiman. Akan tetapi, komoditas ini harus melalui proses pengupasan dan penjemuran sebelum bisa dijual ke pengepul.

“Kalau pinang memang lebih dekat, tapi harus diolah dulu. Kalau brondolan langsung jual, tapi jauh cari nya,” tambahnya.

Fenomena peralihan dari pencarian brondolan sawit ke buah pinang ini mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang fluktuatif. Saat satu komoditas melemah, warga berusaha mencari alternatif lain yang dianggap lebih mampu menopang kebutuhan sehari-hari.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *