Harga Emas Masih Bimbang, Investor Tunggu Data Inflasi AS dan Arah Kebijakan The Fed

Harga Emas Masih Bimbang, Investor Tunggu Data Inflasi AS dan Arah Kebijakan The Fed

Ilustrasi harga emas dunia. Harga emas masih berpeluang naik ke kisaran US$ 4.700 hingga US$ 4.800 per ounce. (Foto By AI)

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Pergerakan harga emas memasuki pekan ini masih belum menunjukkan arah yang jelas. Analis pasar dan investor sama-sama mencermati sejumlah sentimen global yang berpotensi menentukan langkah logam mulia, mulai dari data inflasi Amerika Serikat (AS), kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), hingga perkembangan konflik di Timur Tengah.

Survei mingguan Kitco News yang terbit pada Senin (13/7/2026) memperlihatkan pandangan pelaku pasar masih terpecah. Kondisi tersebut mencerminkan sikap hati-hati investor setelah harga emas bergerak di kisaran sempit dalam beberapa pekan terakhir.

Analis Wall Street Belum Sepakat

Kitco meminta pendapat 13 analis Wall Street mengenai prospek harga emas pekan ini. Sebanyak lima analis atau 38 persen memprediksi harga emas akan menguat.

Tiga analis atau 23 persen justru memperkirakan harga emas melemah. Sementara lima analis lainnya atau 38 persen memilih menunggu perkembangan pasar karena memperkirakan harga emas bergerak mendatar.

Perbedaan proyeksi itu menunjukkan pelaku pasar masih menanti katalis baru yang mampu menggerakkan harga emas ke arah yang lebih tegas.

Investor Ritel Ambil Sikap Beragam

Survei terhadap investor ritel juga menghasilkan pandangan yang hampir seimbang. Dari 282 responden, sebanyak 117 orang atau 42 persen memperkirakan harga emas akan naik.

Di sisi lain, 108 responden atau 38 persen memprediksi harga emas turun. Adapun sekitar 20 persen responden memilih memperkirakan harga emas tetap bergerak dalam fase konsolidasi.

Minyak dan Konflik Timur Tengah Tekan Emas

Kepala Strategi Mata Uang InvestingLive, Adam Button, menilai konflik di Timur Tengah belum memberi keuntungan bagi harga emas. Menurutnya, pasar justru lebih banyak merespons potensi kenaikan harga minyak.

“Sulit untuk antusias terhadap emas selama konflik di Iran masih berlangsung. Risiko kenaikan harga minyak lebih besar, sehingga justru berpotensi menjadi tekanan bagi emas,” katanya.

Pandangan berbeda datang dari analis VR Metals/Resource Letter, Mark Leibovit. Ia masih melihat peluang kenaikan harga emas hingga kisaran US$4.700–US$4.800 per ounce dalam beberapa pekan mendatang jika sentimen pasar berubah lebih positif.

Fokus Beralih ke Data Inflasi AS

Pelaku pasar kini mengarahkan perhatian pada rilis data inflasi Amerika Serikat dan pernyataan terbaru Federal Reserve terkait suku bunga. Kedua faktor tersebut diyakini akan memengaruhi nilai dolar AS sekaligus menentukan arah harga emas.

Analis Komoditas Senior StoneX Group, Daniel Pavilonis, menilai tren teknikal emas masih belum kuat. Ia melihat banyak investor mengalihkan dana ke pasar saham dan sektor teknologi yang menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi.

Pavilonis memperkirakan harga emas berpotensi turun menuju kisaran US$3.800 hingga US$3.600 per ounce jika gagal bertahan di level support utama. Namun, ia menilai pelemahan itu dapat membuka peluang baru bagi investor untuk kembali mengoleksi emas pada harga yang lebih rendah.

Sumber:Liputan6 Sctv

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *