Rupiah Terpuruk ke Level Rp18.031, Ekonom Ingatkan Risiko PHK Massal

Rupiah Terpuruk ke Level Rp18.031, Ekonom Ingatkan Risiko PHK Massa

ilustrasi nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS. (Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc/pri)

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah dan menyentuh level Rp18.031 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional karena berpotensi menekan dunia usaha dan daya beli masyarakat.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai pelemahan rupiah yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir mencerminkan tekanan ekonomi yang tidak bisa dianggap sebagai gejolak sementara. Menurutnya, dampak pelemahan kurs akan terasa langsung pada kenaikan harga berbagai barang yang menggunakan bahan baku impor.

“Kenaikan biaya impor pada akhirnya akan diteruskan ke konsumen melalui harga jual produk yang lebih tinggi,” ujar Bhima, Kamis (4/6/2026).

Sejak awal tahun 2026, rupiah tercatat telah melemah sekitar 8 persen terhadap dolar AS. Situasi tersebut membuat pelaku usaha menghadapi tantangan besar karena harus menanggung biaya produksi yang meningkat di tengah kondisi daya beli masyarakat yang masih terbatas.

Dalam kondisi seperti itu, perusahaan dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Jika harga produk dinaikkan, risiko penurunan penjualan semakin besar. Namun jika harga dipertahankan, margin keuntungan akan semakin tergerus akibat mahalnya biaya bahan baku impor.

Untuk mengurangi tekanan biaya, sebagian perusahaan diperkirakan akan melakukan efisiensi, mulai dari mengurangi ukuran produk, menunda ekspansi usaha, hingga memangkas kapasitas produksi.

Bhima mengingatkan bahwa langkah efisiensi tersebut dapat berdampak pada ketenagakerjaan. Jika tekanan biaya terus berlanjut dan aktivitas produksi menurun, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) berpotensi meningkat pada semester kedua tahun ini.

Selain ancaman PHK, pelemahan rupiah juga dinilai dapat memperbesar jumlah masyarakat yang rentan secara ekonomi. Kelompok kelas menengah disebut menjadi salah satu pihak yang paling terdampak karena harus menghadapi kenaikan biaya hidup di tengah ketidakpastian ekonomi.

Bhima memperkirakan sekitar 1,2 juta hingga 1,4 juta penduduk berpotensi mengalami penurunan status ekonomi sepanjang 2026 apabila tekanan ekonomi tidak segera mereda.

Di sisi lain, sektor energi turut menghadapi tantangan akibat melemahnya mata uang domestik. Kebutuhan impor minyak dan gas yang masih tinggi membuat biaya pengadaan energi semakin mahal karena transaksi dilakukan dalam dolar AS.

Kenaikan biaya impor migas berpotensi memperlebar defisit sektor energi dan meningkatkan permintaan dolar AS di dalam negeri. Kondisi tersebut dikhawatirkan semakin menekan nilai tukar rupiah dan menciptakan siklus pelemahan yang sulit diputus.

Untuk mengurangi risiko tersebut, Bhima mendorong pemerintah mempercepat pengembangan energi alternatif dan mengurangi ketergantungan terhadap impor energi fosil. Menurutnya, langkah itu penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi gejolak global.

Selain reformasi di sektor energi, ia juga menekankan perlunya peningkatan kepercayaan investor terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. Kepastian regulasi, tata kelola yang baik, serta konsistensi kebijakan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan menarik investasi jangka panjang.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *