5 Faktor yang Meningkatkan Risiko Kanker Ovarium, Kenali Penyebabnya Sejak Dini

5 Faktor yang Meningkatkan Risiko Kanker Ovarium, Kenali Penyebabnya Sejak Dini

5 Penyebab Kanker Ovarium, Kenali Faktor Risikonya!.

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Kanker ovarium menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai karena sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Penyakit ini muncul ketika sel-sel di ovarium mengalami mutasi genetik yang membuat pertumbuhannya tidak terkendali. Seiring waktu, sel abnormal dapat membentuk tumor dan menyebar ke organ lain apabila tidak segera ditangani.

Hingga kini, para peneliti belum menemukan penyebab pasti mutasi genetik tersebut. Namun, berbagai studi telah mengidentifikasi sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker ovarium.

Mengacu pada Journal of Clinical Oncology, faktor genetik, hormonal, hingga kondisi kesehatan tertentu berperan dalam meningkatkan risiko penyakit ini.

Faktor Usia Meningkatkan Risiko

Usia menjadi salah satu faktor risiko utama kanker ovarium. Perempuan yang berusia di atas 40 tahun memiliki peluang lebih besar mengalami penyakit ini, sedangkan angka kejadian tertinggi ditemukan pada kelompok usia 55 hingga 64 tahun.

Risiko tersebut meningkat setelah menopause karena perubahan hormon dan proses penuaan dapat memicu pertumbuhan sel abnormal pada ovarium.

Riwayat Keluarga dan Mutasi Gen BRCA

Riwayat kanker ovarium atau kanker payudara dalam keluarga juga meningkatkan risiko. Mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2 mengurangi kemampuan tubuh memperbaiki kerusakan DNA sehingga sel abnormal lebih mudah berkembang.

Penelitian menunjukkan sekitar 10 hingga 15 persen kasus kanker ovarium berkaitan dengan faktor keturunan. Oleh sebab itu, perempuan yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit tersebut sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai pemeriksaan genetik.

Terapi Hormon Perlu Di pertimbangkan

Sebagian perempuan menjalani terapi penggantian hormon (hormone replacement therapy atau HRT) untuk mengurangi gejala menopause. Namun, penggunaan estrogen tanpa progesteron dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker ovarium.

Dokter menyarankan setiap pasien mempertimbangkan manfaat dan risikonya sebelum menjalani terapi hormon, terutama jika penggunaan di rencanakan lebih dari lima tahun.

Obesitas Berkontribusi terhadap Risiko

Kelebihan berat badan turut meningkatkan peluang seseorang mengalami kanker ovarium. Jaringan lemak yang berlebihan menghasilkan estrogen dalam jumlah lebih tinggi sehingga dapat memengaruhi pertumbuhan sel kanker.

Selain itu, obesitas juga berkaitan dengan resistensi insulin dan peradangan kronis yang mendukung perkembangan kanker. Menjaga berat badan ideal melalui pola makan sehat dan olahraga teratur dapat membantu menurunkan risiko.

Endometriosis Juga Perlu Di waspadai

Endometriosis terjadi ketika jaringan yang menyerupai lapisan rahim tumbuh di luar rahim, termasuk pada ovarium. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan nyeri haid yang berat, tetapi juga meningkatkan risiko beberapa jenis kanker ovarium.

Meski tidak semua perempuan dengan endometriosis akan mengalami kanker ovarium, pemeriksaan rutin dan penanganan yang tepat dapat membantu menekan risiko komplikasi di kemudian hari.

Sumber:Popmama.com

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *