Rosyid Jurnalis Ungkap Rahasia Ketenangan: Belajar Menerima yang Tak Bisa Diubah

Rosyid Jurnalis Ungkap Rahasia Ketenangan: Belajar Menerima yang Tak Bisa Diubah

Menerima Bukan Berarti Menyerah, Rosyid Jurnalis Bagikan Makna Kekuatan Sejati.

INDOSBERITA.ID.JAMBI – Dalam kehidupan, manusia kerap menghabiskan tenaga untuk mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sudah berada di luar kendalinya. Keinginan mengubah keadaan, mempertahankan hubungan, hingga mengulang masa lalu sering kali justru membuat hati semakin lelah.

Menurut Rosyid Jurnalis, yang memiliki nama asli M. Rosyid, kekuatan sejati bukan selalu tentang kemampuan melawan keadaan. Terkadang, keberanian terbesar justru muncul ketika seseorang mampu menerima kenyataan dan melepaskan sesuatu yang tidak lagi dapat dipertahankan.

Rosyid menyampaikan pandangan tersebut sebagai refleksi tentang arti menerima, melepaskan, dan menemukan ketenangan dalam perjalanan hidup.

“Ketika sesuatu berjalan tidak seperti yang direncanakan, kita sering memaksa keadaan untuk berubah. Ketika seseorang pergi, kita berusaha mencari alasan agar ia kembali. Ketika masa lalu menyakitkan, kita terus bertanya mengapa semua itu harus terjadi,” ujar Rosyid.

Kelelahan Berawal dari Penolakan terhadap Kenyataan

Rosyid yang saat ini bekerja di PT ZTE Indonesia menilai, sebagian kelelahan dalam hidup tidak hanya muncul akibat masalah yang di hadapi.

Menurutnya, penolakan terhadap kenyataan juga dapat membuat seseorang terus terjebak dalam pergulatan batin.

Kehilangan seseorang tidak selalu dapat di kembalikan. Perpisahan pun terkadang hadir tanpa bisa di cegah. Kesalahan yang telah terjadi tidak mungkin di hapus, sedangkan masa lalu tidak dapat di tulis ulang.

Karena itu, Rosyid mengingatkan bahwa tidak semua persoalan harus berakhir dengan kemenangan.

“Memaksakan diri untuk melawan semuanya hanya membuat hati terus berada dalam peperangan dengan kenyataan. Menerima bukan berarti menyetujui sesuatu yang menyakitkan dan bukan pula berarti menyerah,” katanya.

Ia menjelaskan, menerima berarti berani mengakui bahwa sesuatu memang telah terjadi. Seseorang tidak harus menemukan seluruh jawaban untuk kembali melanjutkan kehidupannya.

Melepaskan Tidak Berarti Berhenti Peduli

Rosyid yang di kenal sebagai salah satu sosok MC di Jambi itu juga menyoroti anggapan bahwa melepaskan berarti tidak lagi memiliki kepedulian.

Menurutnya, seseorang terkadang perlu berhenti menggenggam sesuatu justru karena hal tersebut pernah begitu berarti.

“Ada orang yang harus kita lepaskan bukan karena mereka tidak berarti, tetapi karena hubungan itu sudah tidak lagi membawa kebaikan. Ada impian yang harus kita relakan bukan karena kita gagal, tetapi mungkin hidup sedang mengarahkan kita ke jalan yang berbeda,” tuturnya.

Rosyid menilai, tidak semua kehilangan merupakan hukuman. Sebagian kehilangan dapat menjadi pelajaran tentang batas, penerimaan, dan kedewasaan.

Ketika seseorang mulai menerima kenyataan, fokus hidup pun perlahan berubah. Ia tidak lagi sibuk memaksa keadaan, tetapi mulai berusaha mengembalikan ketenangan ke dalam dirinya.

“Kita boleh menangis, kecewa dan membutuhkan waktu untuk berdamai. Hati tidak bisa di perintah untuk sembuh dalam semalam,” ungkapnya.

Berdamai dengan Diri Sendiri

Menurut Rosyid, proses menerima membutuhkan waktu. Seseorang perlu memberi ruang bagi dirinya untuk merasakan kecewa tanpa terus menyalahkan diri sendiri.

Seiring berjalannya waktu, hati dapat belajar menghentikan pertanyaan yang tidak memiliki jawaban. Seseorang juga bisa berhenti menyalahkan diri atas hal-hal yang berada di luar kendalinya.

Selain itu, penting untuk tidak terus berharap kenyataan berubah hanya karena diri sendiri belum siap menerimanya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *