Dengan langkah pelan dan tangan yang sesekali mengusap air mata, perempuan berusia sekitar 70-an tahun itu akhirnya berdiri di hadapan Baitullah momen yang selama ini hanya hadir dalam doa dan angan-angan.
Perjalanan panjang Jumariah menuju Tanah Suci bukanlah kisah yang mudah. Ia menjalani hidup sederhana di kampung halamannya, seorang diri tanpa keluarga dekat yang mendampingi kesehariannya. Setiap hari, ia mengurus ternak, berkebun, hingga bekerja di sawah kecil miliknya demi mencukupi kebutuhan hidup.
Di balik kesederhanaan itu, tersimpan tekad besar yang ia rawat selama dua dekade. Dengan penghasilan terbatas, Jumariah secara perlahan menyisihkan uang hasil kerja kerasnya ke dalam sebuah wadah sederhana di rumahnya. Dari kebiasaan menabung itulah, impian besar untuk menunaikan ibadah haji mulai terbentuk.
Setelah bertahun-tahun berjuang, pada 2011 ia akhirnya berhasil mendaftar sebagai calon jemaah haji dengan bantuan keluarganya. Sejak saat itu, semangatnya semakin kuat. Ia tak pernah absen mengikuti bimbingan manasik, meski harus menempuh perjalanan cukup jauh dari rumahnya.
Keteguhan hati Jumariah membuatnya menjadi salah satu jemaah yang mendapat perhatian khusus dalam rombongan Kloter UPG-14 Embarkasi Makassar. Bahkan, kisah hidupnya yang inspiratif turut diangkat sebagai bagian dari dokumentasi bertema perjalanan jemaah haji Indonesia.
Setibanya di Arab Saudi, kondisi fisik Jumariah justru menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Ia mampu menjalankan rangkaian ibadah dengan semangat tinggi, termasuk beberapa kali umrah tanpa mengeluhkan kelelahan berarti.
Petugas kloter menyebut, semangatnya yang tak biasa menjadi sumber inspirasi bagi jemaah lain yang jauh lebih muda. Di usia senjanya, Jumariah tetap menunjukkan keteguhan fisik dan mental yang jarang ditemui.
Kini, ia tengah bersiap menyambut puncak ibadah haji di Arafah. Bagi Jumariah, perjalanan panjang dari kehidupan sederhana di Maros hingga Tanah Suci bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan bukti keteguhan iman dan kesabaran yang ia rawat selama bertahun-tahun.
Di tengah hamparan doa dan air mata, kisahnya menjadi pengingat bahwa mimpi besar bisa lahir dari kesederhanaan yang dijalani dengan ketulusan dan ketekunan.