Komunitas Lari WNA di Bali Disorot, Dugaan Tolak Peserta Lokal Picu Kontroversi

Komunitas lari berisikan WNA di Canggu, Bali, yang viral. (Tangkapan layar Instagram @entourage.bali)
INDOSBERITA.ID.BALI – Komunitas lari yang digagas sejumlah warga negara asing (WNA) di Bali menjadi perhatian publik. Sorotan muncul setelah beredar dugaan penolakan terhadap calon peserta asal Indonesia saat proses pendaftaran.
Isu tersebut mencuat usai tangkapan layar percakapan tersebar luas di media sosial. Percakapan itu di kaitkan dengan komunitas Entourage Bali, yang dikenal rutin menggelar kegiatan Silent Disco Run.
Dugaan Penolakan Peserta Lokal
Dalam kegiatan tersebut, peserta berlari sambil mengenakan headphone nirkabel yang memutar musik dari DJ. Salah satu agenda sebelumnya berlangsung di kawasan Canggu sekitar pukul 05.30 WITA dan melibatkan sekitar 150 peserta.
Kontroversi bermula ketika sejumlah unggahan di media sosial menuding komunitas itu lebih mengutamakan ekspatriat dan digital nomad. Berdasarkan tangkapan layar yang beredar, calon peserta di sebut lebih dulu di tanya mengenai kewarganegaraannya sebelum akhirnya tidak di terima mengikuti kegiatan.
Unggahan itu memicu kritik dari warganet. Mereka menilai tidak boleh ada perlakuan berbeda terhadap masyarakat lokal dalam kegiatan yang menggunakan ruang publik.
Penggunaan Jalan dan Flare Ikut Di persoalkan
Selain dugaan di skriminasi, publik juga menyoroti pelaksanaan kegiatan di jalan umum. Rekaman yang beredar memperlihatkan rombongan pelari memenuhi sebagian ruas jalan saat acara berlangsung.
Video tersebut juga menunjukkan penggunaan flare yang menghasilkan kepulan asap di sekitar peserta. Sejumlah warga menilai kondisi itu berpotensi mengganggu pengguna jalan serta aktivitas masyarakat pada pagi hari.
Kritik terus bermunculan karena kegiatan berlangsung di kawasan yang setiap hari di manfaatkan warga untuk bekerja, berdagang, beribadah, dan beraktivitas.
Penyelenggara Hentikan Sementara Kegiatan
Sebelumnya, pihak penyelenggara menyatakan kegiatan itu terbuka bagi warga lokal, wisatawan, maupun ekspatriat. Namun, setelah kontroversi meluas di media sosial, agenda komunitas tersebut di laporkan di hentikan sementara.
Hingga berita ini di tulis, penyelenggara belum memberikan penjelasan terperinci terkait dugaan penolakan terhadap peserta asal Indonesia.
Kasus ini memicu diskusi mengenai penggunaan ruang publik di Bali. Banyak pihak menilai setiap komunitas, termasuk yang di bentuk oleh WNA, harus menghormati masyarakat setempat, mematuhi aturan, serta menghindari praktik diskriminasi. Sementara itu, publik juga menunggu klarifikasi resmi dan hasil pemeriksaan pihak berwenang agar seluruh fakta dapat terungkap secara utuh.



