Kabar Baik! Maroko Buka Peluang Tambah Beasiswa bagi Mahasiswa Indonesia

Kabar Baik! Maroko Buka Peluang Tambah Beasiswa bagi Mahasiswa Indonesia

Maroko Pertahankan 50 Beasiswa dan Siap Tambah Kuota

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Hubungan Indonesia dan Maroko memasuki babak baru di sektor pendidikan. Pemerintah Maroko menyatakan kesiapannya mempertahankan sekitar 50 kuota beasiswa bagi mahasiswa Indonesia sekaligus membuka peluang penambahan jumlah penerima sesuai kebutuhan.

Komitmen tersebut muncul dalam pertemuan Duta Besar Maroko untuk Indonesia, Redouane Houssaini, dengan Menteri Agama Nasaruddin Umar di Kantor Kementerian Agama, Jakarta.

Selain membahas keberlanjutan program beasiswa, kedua pihak juga mencari jalan keluar atas berbagai kendala administrasi yang selama ini menghambat mahasiswa Indonesia melanjutkan pendidikan ke Maroko.

Kerja sama tersebut dinilai penting karena kebutuhan Indonesia terhadap sumber daya manusia berdaya saing global terus meningkat. Di sisi lain, Maroko memiliki reputasi sebagai salah satu pusat pendidikan Islam yang memadukan tradisi keilmuan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Maroko Buka Peluang Tambah Kuota

Duta Besar Maroko Redouane Houssaini mengatakan pemerintahnya tetap menyediakan sekitar 50 beasiswa setiap tahun bagi mahasiswa Indonesia. Bahkan, pemerintah Maroko siap mempertimbangkan penambahan kuota apabila Indonesia membutuhkan lebih banyak kesempatan belajar.

“Kami menyediakan sekitar 50 beasiswa bagi mahasiswa Indonesia. Saya kira ada keinginan dari Kementerian Urusan Islam untuk meningkatkan jumlahnya jika memang dibutuhkan. Saya berkomitmen menyampaikan posisi Indonesia kepada pihak berwenang dan pemerintah saya serta akan menindaklanjutinya,” kata Houssaini, dikutip dari Kementerian Agama, Sabtu (1/8/2026).

Menurutnya, langkah tersebut mencerminkan komitmen Maroko untuk memperkuat hubungan bilateral melalui kerja sama pendidikan yang lebih luas.

Kemenag Ingin Kirim Lebih Banyak Mahasiswa

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan Indonesia sebelumnya rutin mengirim mahasiswa melalui program visiting student. Pada tahun lalu, Kementerian Agama mengirim 30 mahasiswa untuk mengikuti program magister dan doktoral di Maroko.

Namun, rencana pengiriman mahasiswa pada tahun ini batal terlaksana karena persyaratan administrasi yang dinilai terlalu kompleks.

“Tahun lalu kami mengirim 30 mahasiswa, tiga bulan untuk program magister dan enam bulan untuk program doktoral. Tahun ini kami kembali merencanakannya, tetapi ada banyak persyaratan. Karena itu, tahun ini kami tidak mengirim mahasiswa ke Maroko,” ujar Nasaruddin.

Karena itu, Kementerian Agama mendorong penyederhanaan prosedur agar lebih banyak mahasiswa Indonesia memperoleh kesempatan belajar di negara tersebut.

Selain itu, Nasaruddin berharap ruang lingkup kerja sama tidak hanya berfokus pada studi keislaman. Menurutnya, mahasiswa Indonesia juga perlu memperoleh akses ke bidang teknik, sains, dan disiplin ilmu lainnya.

“Insyaallah, ke depan kita dapat mengirim lebih banyak mahasiswa ke Maroko, bukan hanya untuk studi Islam, tetapi juga teknik dan berbagai ilmu lainnya,” katanya.

Maroko Siapkan Program Bahasa Arab

Menanggapi masukan dari pemerintah Indonesia, Houssaini menyatakan telah berkoordinasi dengan Kementerian Urusan Islam Maroko untuk menyederhanakan sejumlah persyaratan administrasi.

Ia menyebut komunikasi tersebut mendapat respons positif sehingga proses penyempurnaan mekanisme kerja sama terus berjalan.

Selain administrasi, kedua negara juga membahas kendala kemampuan bahasa Arab yang selama ini menjadi tantangan bagi calon mahasiswa Indonesia.

Sebagai solusi, Maroko mengkaji rencana pengiriman tenaga pengajar bahasa Arab ke Indonesia. Program itu memungkinkan calon mahasiswa mengikuti pelatihan bahasa selama tiga hingga enam bulan di Jakarta sebelum berangkat ke Maroko.

“Kementerian kami menerima gagasan tersebut dan sedang mengkajinya,” ujar Houssaini.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *