Bukan Punah! Inilah Hewan Purba yang Masih Bertahan di Hutan dan Laut Indonesia

Belangkas atau Horseshoe crab termasuk ke Famili Limulidae (pixabay.com/Goodfreephotos_com)
INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Ribuan spesies hewan dan tumbuhan hidup tersebar dari Sabang hingga Merauke, menjadikan wilayah Nusantara sebagai rumah bagi berbagai bentuk kehidupan unik yang tidak ditemukan di tempat lain. Berdasarkan catatan ilmiah, Indonesia berada di posisi tiga besar dunia bersama Brasil dan Republik Demokratik Kongo dalam hal kekayaan biodiversitas.
Di antara ribuan spesies tersebut, terdapat sejumlah hewan purba yang hingga kini masih bertahan hidup tanpa banyak mengalami perubahan bentuk sejak jutaan tahun lalu. Hewan-hewan ini sering disebut sebagai “fosil hidup” karena keberadaannya yang telah melintasi berbagai era geologi, termasuk masa dinosaurus.
Salah satu hewan purba yang masih dapat ditemukan di perairan Indonesia adalah belangkas atau horseshoe crab. Hewan ini diperkirakan telah ada sejak sekitar 400 juta tahun lalu dan dikenal sebagai salah satu makhluk hidup paling tua di dunia. Di perairan Indonesia, terdapat beberapa spesies seperti Tachypleus gigas dan Carcinoscorpius rotundicauda yang masih bertahan hingga sekarang.
Selain itu, Indonesia juga menjadi satu-satunya habitat alami bagi komodo (Varanus komodoensis), kadal terbesar di dunia yang hidup di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Hewan ini diperkirakan telah ada sejak sekitar 30 juta tahun lalu dan dikenal memiliki kemampuan berburu yang sangat efektif. Air liur komodo mengandung zat yang dapat mengganggu pembekuan darah mangsanya, membuatnya menjadi predator puncak di habitatnya.
Dari kedalaman laut, Indonesia juga menyimpan kehadiran ikan raja laut atau coelacanth (Latimeria menadoensis), yang sempat dianggap punah selama jutaan tahun sebelum akhirnya kembali ditemukan di perairan Sulawesi. Ikan ini memiliki struktur tubuh unik dengan sirip berdaging yang menyerupai kaki, menjadikannya salah satu spesies paling langka di dunia.
Di wilayah perairan tropis, terdapat pula penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu terbesar di dunia yang sudah ada sejak masa dinosaurus. Dengan panjang tubuh mencapai dua meter dan berat hingga ratusan kilogram, penyu ini kini masuk kategori sangat terancam punah akibat perburuan dan kerusakan habitat.
Dari daratan Kalimantan, hidup biawak tak bertelinga (Lanthanotus borneensis), reptil langka yang termasuk dalam kelompok fosil hidup. Hewan ini memiliki ciri fisik unik berupa tubuh bersisik dengan tekstur seperti gerigi dan menjadi salah satu spesies yang sangat jarang ditemui di alam liar.
Trenggiling (Manis javanica) juga termasuk hewan purba yang masih bertahan hingga kini. Hewan ini dikenal dengan tubuh bersisik keras yang terbuat dari keratin. Sayangnya, trenggiling menjadi salah satu satwa paling banyak diburu secara ilegal karena dianggap memiliki nilai ekonomi tinggi, sehingga populasinya terus menurun.
Sementara itu, buaya muara (Crocodylus porosus) menjadi salah satu reptil purba terbesar yang masih hidup di Indonesia. Hewan ini dikenal sebagai predator agresif yang mampu hidup di air tawar maupun air asin, serta memiliki hubungan evolusi yang sangat dekat dengan nenek moyang buaya purba.
Keberadaan hewan-hewan purba ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya kaya akan keindahan alam, tetapi juga menyimpan warisan kehidupan yang sangat berharga dari masa prasejarah. Namun, ancaman seperti perburuan liar dan hilangnya habitat alami membuat keberlangsungan hidup mereka semakin terancam. Karena itu, upaya konservasi menjadi kunci penting agar generasi mendatang masih dapat menyaksikan langsung jejak kehidupan purba yang masih bertahan hingga hari ini.



