Ternyata Shalat Sudah Ada Sebelum Nabi Muhammad SAW, Begini Ibadah Para Nabi Terdahulu

mimpi sholat di masjid ©Ilustrasi dibuat AI
INDOSBERITA.ID.TANYA ISLAM – Shalat menjadi ibadah utama dalam Islam sekaligus penopang kehidupan seorang Muslim. Perintah shalat lima waktu memang Allah SWT tetapkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui peristiwa Isra’ Mi’raj. Namun, jejak ibadah shalat telah hadir sejak masa para nabi terdahulu.
Al-Qur’an menunjukkan bahwa sejumlah nabi, seperti Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, Nabi Musa AS, Nabi Zakaria AS, dan Nabi Isa AS, menjalankan shalat sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Perbedaan hanya terletak pada tata cara, waktu, maupun jumlah rakaat sesuai syariat yang berlaku pada masing-masing umat.
Syariat Islam kemudian menyempurnakan ibadah tersebut melalui kewajiban shalat lima waktu yang berlaku bagi umat Nabi Muhammad SAW.
Shalat Menjadi Ibadah Seluruh Nabi
Islam mengajarkan bahwa seluruh nabi membawa ajaran tauhid. Karena itu, ibadah shalat bukanlah amalan yang baru muncul pada masa Rasulullah SAW.
Allah SWT berfirman tentang Nabi Ibrahim dan keluarganya:
“Ya Tuhan kami, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim: 40)
Tentang Nabi Ismail AS, Allah SWT juga berfirman:
“Dia menyuruh keluarganya mendirikan shalat dan menunaikan zakat.” (QS. Maryam: 55)
Sementara Nabi Isa AS menyampaikan:
“Dia memerintahkanku melaksanakan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup.” (QS. Maryam: 31)
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa shalat telah menjadi bagian dari syariat para nabi sebelum Rasulullah SAW.
Nabi Adam AS dan Awal Shalat Subuh
Sejumlah literatur klasik menyebutkan bahwa Nabi Adam AS mengerjakan shalat dua rakaat ketika pertama kali mengalami malam di bumi setelah keluar dari surga. Beliau memanjatkan syukur kepada Allah saat fajar menyingsing dan kegelapan berganti cahaya.
Riwayat ini banyak ditemukan dalam kitab-kitab sejarah Islam, meskipun tidak berasal dari hadis sahih.
Nabi Ibrahim AS Mensyukuri Ujian Besar
Kisah Nabi Ibrahim AS sering dikaitkan dengan shalat Zhuhur. Setelah Allah SWT mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor domba sebagai kurban, Nabi Ibrahim mengungkapkan rasa syukur atas pertolongan tersebut.
Sebagian ulama menceritakan bahwa beliau mengerjakan empat rakaat sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah. Meski demikian, riwayat tersebut tidak memiliki landasan hadis yang kuat.
Al-Qur’an sendiri lebih menekankan keteladanan Nabi Ibrahim dalam ketaatan dan kepasrahan kepada Allah SWT.
Nabi Yunus AS Bersyukur Setelah Selamat
Perjalanan Nabi Yunus AS di dalam perut ikan menjadi salah satu kisah yang paling dikenal dalam Al-Qur’an.
Setelah Allah SWT menyelamatkannya, sejumlah riwayat menyebutkan bahwa Nabi Yunus mengerjakan shalat sebagai ungkapan syukur. Sebagian riwayat mengaitkannya dengan empat rakaat karena beliau terbebas dari berbagai kesulitan yang melingkupinya.
Namun, Al-Qur’an tidak menjelaskan bentuk maupun jumlah rakaat ibadah tersebut secara khusus.
Nabi Isa AS Tetap Menjaga Shalat
Al-Qur’an secara tegas menyebutkan bahwa Allah SWT memerintahkan Nabi Isa AS untuk mendirikan shalat.
Firman Allah SWT:
“Dan Dia memerintahkanku melaksanakan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup.” (QS. Maryam: 31)
Sebagian riwayat menghubungkan Nabi Isa AS dengan shalat Maghrib tiga rakaat. Akan tetapi, keterangan tersebut berasal dari riwayat sejarah dan bukan dalil yang bersifat pasti.
Nabi Musa AS dan Rasa Syukur kepada Allah
Nabi Musa AS juga termasuk nabi yang diperintahkan mendirikan shalat.
Ketika menerima wahyu di Bukit Thur, Allah SWT berfirman:
“Sungguh, Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)
Ayat tersebut menjadi bukti bahwa shalat telah menjadi bagian dari syariat Nabi Musa AS. Adapun kisah tentang jumlah rakaat tertentu setelah berbagai peristiwa dalam kehidupan beliau merupakan riwayat yang tidak memiliki dasar kuat dalam hadis sahih.
Shalat Lima Waktu Menjadi Penyempurna Syariat
Berbeda dengan syariat para nabi sebelumnya, umat Islam menerima kewajiban shalat lima waktu melalui peristiwa Isra’ Mi’raj.
Saat itu Rasulullah SAW memperoleh perintah shalat lima puluh waktu. Setelah beberapa kali memohon keringanan atas saran Nabi Musa AS, Allah SWT menetapkan lima waktu shalat dengan pahala setara lima puluh kali shalat.
Peristiwa tersebut menunjukkan besarnya kasih sayang Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW. Meski jumlah shalat lebih sedikit, pahala yang Allah janjikan tetap berlipat ganda.



