Warga Waswas, Tanggul Lapindo Ditinggikan Setelah Lumpur Mendekati Puncak

Warga Waswas, Tanggul Lapindo Ditinggikan Setelah Lumpur Mendekati Puncak

Ilustrasi lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.(Shutterstock/BorneoRimbawan)

INDOSBERITA.ID.JAWA TIMUR – Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) melakukan peninggian tanggul penahan lumpur Lapindo di kawasan perbatasan Desa Siring, Kecamatan Porong, dan Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin. Upaya ini dilakukan sebagai langkah antisipasi setelah permukaan air dan lumpur di kolam penampungan dilaporkan semakin mendekati puncak tanggul.

Pekerjaan peninggian tanggul telah berlangsung sejak Jumat (5/6/2026). Fokus pengerjaan berada di sisi tanggul yang berdekatan langsung dengan Jalan Raya Porong serta jalur rel kereta api, dua infrastruktur vital yang berpotensi terdampak jika terjadi luapan.

Warga Desa Ketapang, Usmin, mengatakan kondisi lumpur dalam beberapa pekan terakhir terlihat semakin tinggi hingga hampir sejajar dengan tanggul penahan. Meski demikian, warga tidak mengetahui secara pasti penyebab kondisi tersebut, apakah akibat peningkatan volume lumpur atau penurunan struktur tanggul.

“Dua minggu terakhir permukaan lumpur terlihat hampir penuh. Kami tidak tahu apakah lumpurnya yang naik atau tanggulnya yang mengalami penurunan. Yang jelas jaraknya sudah sangat dekat,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).Dikutip dari Kompas.com

Menurut Usmin, tanggul tersebut ditinggikan sekitar satu meter dengan panjang pengerjaan mencapai kurang lebih 300 meter. Material yang digunakan berasal dari lumpur yang ada di dalam area kolam penampungan.

Ia menduga peninggian dilakukan untuk memperkuat perlindungan terhadap jalan raya dan jalur kereta api yang lokasinya berada tepat di samping tanggul.

Sementara itu, warga lainnya, Harsono, mengungkapkan bahwa selama sekitar enam bulan terakhir tidak terlihat adanya aktivitas pembuangan lumpur ke Sungai Porong. Menurutnya, yang dilakukan hanya penyedotan air dari kolam penampungan.

“Lumpurnya tidak dibuang, hanya airnya yang dipompa keluar. Aktivitas kapal juga tidak rutin, biasanya beroperasi ketika kondisi kolam penuh,” kata Harsono.

Meski perbaikan dan penguatan tanggul sedang dilakukan, kekhawatiran masih dirasakan sebagian warga. Mereka menilai kondisi tanggul perlu terus dipantau karena potensi ambles atau kerusakan tetap dapat menimbulkan dampak bagi lingkungan sekitar.

“Warga tentu masih waswas. Kalau sampai ada tanggul yang ambles atau terjadi kebocoran, dampaknya bisa dirasakan masyarakat di sekitar kawasan ini,” ujarnya.

Peninggian tanggul menjadi salah satu langkah mitigasi yang dilakukan untuk menjaga keamanan area penampungan lumpur sekaligus melindungi infrastruktur dan permukiman di sekitarnya dari risiko luapan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *