Kisah Berhentinya Unta Rasulullah di Rumah Abu Ayyub al-Anshari

Sambutan Meriah Penduduk Madinah Saat Rasulullah SAW Tiba di Kota Hijrah
INDOSBERITA.ID.TANYA ISLAM – Kedatangan Nabi Muhammad SAW ke Yatsrib atau Madinah menjadi salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan dakwah Islam. Suasana haru dan kegembiraan menyelimuti penduduk kota saat Rasulullah SAW tiba setelah hijrah dari Mekkah. Lantunan qasidah “Tala’al Badru ‘Alaina” yang dinyanyikan masyarakat kala itu menjadi simbol sambutan penuh cinta kepada Nabi akhir zaman.
Menurut berbagai kitab Sirah Nabawiyah, masyarakat Yatsrib berbondong-bondong menawarkan rumah dan pelayanan terbaik untuk Rasulullah SAW. Namun, Nabi Muhammad SAW memilih menyerahkan keputusan tempat tinggal kepada untanya, al-Qaṣwa. Unta tersebut kemudian berhenti di depan rumah sahabat Abu Ayyub al-Anshari RA.
Peristiwa itu diyakini bukan sekadar kebetulan. Dalam sejumlah literatur klasik seperti Sirah Ibnu Hisyam, al-Mawahib al-Laduniyyah karya Ahmad al-Qisṭalani, hingga al-Sirah al-Halbiyyah karya Ali al-Halbi, disebutkan bahwa tempat tinggal Nabi SAW di rumah Abu Ayyub telah menjadi bagian dari takdir yang dipersiapkan jauh sebelumnya.
Dikisahkan sekitar 700 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW, Raja Tubba’ I al-Himyari dari Yaman pernah melewati wilayah Yatsrib. Dalam perjalanannya, ia bertemu dua ulama Yahudi ahli kitab yang memberitahukan bahwa Yatsrib kelak akan menjadi tempat hijrah Nabi akhir zaman bernama Ahmad.
Mendengar kabar tersebut, Raja Tubba’ I diyakini menyatakan keimanannya kepada Nabi yang belum lahir itu. Ia kemudian meninggalkan 400 orang alim di Yatsrib untuk menantikan kedatangan Rasulullah SAW. Raja Tubba’ juga disebut membangun sebuah rumah dua tingkat yang dipersiapkan khusus sebagai tempat tinggal Nabi Muhammad SAW saat tiba di kota tersebut.
Rumah itu kemudian diwariskan turun-temurun hingga akhirnya berada di tangan Abu Ayyub al-Anshari RA, yang diyakini masih memiliki garis keturunan dari penjaga rumah tersebut.
Karena itulah, sebagian ulama menafsirkan bahwa Rasulullah SAW sebenarnya bukan sekadar bertamu di rumah Abu Ayyub, melainkan menempati rumah yang sejak lama dipersiapkan untuk beliau.
Kisah lainnya juga menyebut adanya surat dari Raja Tubba’ I yang dititipkan kepada keturunan para alim di Yatsrib untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW ketika beliau diutus. Surat itu berisi pengakuan iman Raja Tubba’ serta harapannya untuk memperoleh syafaat Rasulullah SAW kelak.
Dalam riwayat Durus al-Hijrah disebutkan, surat tersebut akhirnya dipegang oleh seorang bernama Abu Layla. Ketika Abu Layla bertemu Rasulullah SAW di Mekkah, Nabi langsung mengenalinya sebelum ia memperkenalkan diri.
“Kamu Abu Layla?” tanya Rasulullah SAW.
Abu Layla pun terkejut dan bertanya bagaimana Nabi mengenal dirinya. Rasulullah kemudian menyebut tentang surat yang dibawanya, hingga Abu Layla semakin yakin akan kerasulan Muhammad SAW.
Dalam sejumlah hadis, Rasulullah SAW juga melarang umatnya mencela Raja Tubba’. Nabi bersabda:
“Janganlah kalian mencela Tubba’, karena sesungguhnya dia adalah seorang Muslim.”
Riwayat lain menyebut Raja Tubba’ sebagai orang pertama yang memberikan kiswah atau penutup Ka’bah.
Sementara itu, Sayyidah Aisyah RA juga pernah menyebut Tubba’ sebagai sosok saleh yang tidak dicela Allah SWT, berbeda dengan kaumnya yang disebut dalam Al-Qur’an.
Kisah ini menjadi salah satu bagian menarik dalam sejarah Islam yang menggambarkan bagaimana kedatangan Nabi Muhammad SAW ke Madinah telah dipersiapkan jauh sebelum masa kerasulan beliau dimulai.



