Para siswa terdampak berasal dari 12 sekolah di wilayah tersebut, di antaranya SD Negeri Tembok Dukuh, TK dan SD Kristen Aletheia, SMP Kristen Aletheia, SD Pancasila 45, hingga SMP Islam Surabaya. Setelah mengalami gejala, para siswa sempat mendapatkan penanganan awal di sekolah sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat, seperti Puskesmas Tembok Dukuh dan RSIA Ikatan Bidan Indonesia Surabaya.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan pemerintah saat ini memprioritaskan penanganan para siswa yang terdampak. Menurutnya, sebagian besar pelajar sudah diperbolehkan pulang setelah kondisi kesehatan mereka membaik.
“Fokus utama kami saat ini adalah memastikan seluruh siswa mendapatkan penanganan yang baik. Setelah itu baru dilakukan investigasi menyeluruh terkait penyedia makanan MBG,” ujar Emil, Selasa (12/5/2026).
Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Badan Gizi Nasional kini melakukan pemeriksaan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh sebagai pihak penyedia makanan program MBG. Sejumlah sampel makanan telah dikirim ke laboratorium untuk diuji guna mengetahui penyebab pasti insiden tersebut.
Kepala Puskesmas Tembok Dukuh, Tyas Pradadani, menyebut laporan pertama diterima sekitar pukul 12.00 WIB. Dari hasil pemeriksaan awal, dugaan sementara mengarah pada salah satu menu olahan daging yang dikonsumsi para siswa.
“Kami masih menunggu hasil laboratorium, namun dugaan awal berasal dari menu olahan daging berdasarkan keluhan siswa dan guru,” jelas Tyas.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Billy Daniel Messakh memastikan investigasi masih berlangsung. Pemerintah Kota Surabaya juga memutuskan menghentikan sementara distribusi makanan dari dapur penyedia MBG di Tembok Dukuh hingga hasil pemeriksaan selesai dilakukan.
Wakil Wali Kota Surabaya Armuji mengatakan langkah penghentian sementara diambil untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali sebelum dapur penyedia dinyatakan aman beroperasi.
Di sisi lain, Kepala SPPG Tembok Dukuh Chafi Alida Najla menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang terjadi. Ia memastikan pihak penyedia makanan siap bertanggung jawab dan menanggung biaya pengobatan seluruh siswa yang terdampak.
“Kami menyampaikan permohonan maaf dan akan bertanggung jawab atas biaya perawatan siswa yang mengalami keluhan,” ujar Chafi.
Kasus dugaan keracunan massal ini kembali menjadi sorotan terhadap pelaksanaan program MBG di sejumlah daerah. Pemerintah didorong untuk memperketat pengawasan terhadap kualitas bahan makanan, proses pengolahan, hingga distribusi makanan kepada para pelajar agar kejadian serupa tidak kembali terulang.