Warga Jepang Borong Tisu Toilet di Tengah Isu Krisis Energi

Warga Jepang panic buying tisu toilet akibat konflik Timur Tengah. (Facebook/The Financial Express)
INDOSBERITA.ID.TOKYO – Gejolak di Timur Tengah yang berdampak pada pasar energi global memicu fenomena tak terduga di Jepang. Warga di sejumlah kota besar justru ramai-ramai memborong tisu toilet, meski produk tersebut tidak berkaitan langsung dengan krisis yang terjadi.
Aksi pembelian panik ini terlihat di berbagai pusat perbelanjaan di Tokyo dan Osaka sejak beberapa hari terakhir. Rak-rak toko dilaporkan kosong, sementara video di media sosial memperlihatkan antrean panjang dan warga saling berebut produk.
Untuk meredam kepanikan, sejumlah toko memasang pengumuman bahwa stok masih aman. Pembelian pun mulai dibatasi, dengan setiap pelanggan hanya diperbolehkan mengambil beberapa gulung tisu.
Pemerintah Jepang melalui Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) turut angkat bicara. Mereka mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh rumor dan tetap berbelanja secara wajar.
Otoritas menegaskan bahwa sebagian besar tisu toilet diproduksi di dalam negeri, sehingga tidak terdampak konflik Timur Tengah maupun jalur distribusi energi global. Produsen juga memastikan kapasitas produksi bisa ditingkatkan jika permintaan melonjak.
Meski begitu, tren penimbunan mulai meluas ke barang lain seperti makanan hewan, perlengkapan mandi, hingga minuman kemasan. Para ahli menilai fenomena ini dipicu oleh efek psikologis, di mana kepanikan menyebar cepat akibat informasi yang belum tentu benar.
Kondisi serupa juga terjadi di Korea Selatan. Kekhawatiran terkait bahan baku plastik mendorong warga memborong kantong sampah, meski pemerintah telah menjamin ketersediaannya.
Di Jepang sendiri, perilaku panic buying bukan hal baru. Trauma krisis minyak 1973 hingga pengalaman saat pandemi Covid-19 membuat masyarakat lebih sensitif terhadap isu kelangkaan.
Pengamat menyebut tisu toilet menjadi simbol rasa aman bagi rumah tangga. Ketika stok terlihat menipis di toko, hal itu memicu kekhawatiran yang mendorong orang untuk ikut membeli dalam jumlah besar.
Fenomena ini kembali menunjukkan bahwa di era digital, persepsi dan ketakutan publik bisa dengan cepat menciptakan kelangkaan, meskipun pasokan sebenarnya masih mencukupi.




