Pemerintah Genjot PLTS 100 GW untuk Energi Bersih

Pemerintah Genjot PLTS 100 GW untuk Energi Bersih

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Muhammad Qodari dalam konferensi pers di gedung KSP, Jakarta, Rabu 18 Maret 2026. (Beritasatu.com/Celvin Moniaga Sipahutar)

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Pemerintah mempercepat pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebagai bagian dari strategi besar menuju kemandirian energi nasional. Dari total target kapasitas 100 gigawatt (GW), tahap awal difokuskan pada pembangunan sebesar 13 GW di wilayah yang telah memiliki kesiapan jaringan distribusi listrik.

Kepala Kantor Staf Presiden, Muhammad Qodari, menyampaikan bahwa langkah awal ini diprioritaskan agar implementasi dapat berjalan lebih cepat dan efisien. Menurutnya, kesiapan infrastruktur menjadi faktor kunci dalam menentukan lokasi pembangunan tahap pertama.

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto menargetkan keseluruhan proyek PLTS berkapasitas 100 GW dapat rampung dalam kurun waktu dua tahun. Program ini dibagi ke dalam dua skema utama, yakni PLTS yang terhubung dengan jaringan listrik nasional serta PLTS mandiri untuk kebutuhan sendiri atau wilayah yang belum terjangkau jaringan.

Untuk sistem yang terhubung dengan jaringan, kapasitas ditargetkan mencapai 89,1 gigawatt peak (GWp) dan didukung oleh teknologi penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) sebesar 124,1 gigawatt-jam (GWh). Adapun untuk sistem non-jaringan atau off-grid, kapasitas yang disiapkan sebesar 11,7 GWp dengan dukungan BESS 21,8 GWh.

Pengembangan PLTS ini dinilai sebagai langkah strategis dalam mempercepat transisi menuju energi baru dan terbarukan (EBT), sekaligus menjawab tantangan krisis energi global. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat mendorong pemerataan akses listrik di seluruh wilayah Indonesia.

Pemerintah juga memperluas pembangunan PLTS off-grid melalui Program Listrik Desa, terutama untuk menjangkau daerah terpencil. Sejumlah wilayah telah merasakan manfaatnya, seperti Pulau Sakala di Kabupaten Sumenep yang kini mendapatkan pasokan listrik dari PLTS berkapasitas 100 kWp untuk melayani sekitar 500 rumah tangga.

Hal serupa juga diterapkan di Pulau Karamaian, Kabupaten Sumenep, dengan kapasitas PLTS 175 kWp yang melayani sekitar 400 rumah. Sebelumnya, masyarakat di wilayah tersebut bergantung pada pembangkit listrik tenaga diesel dengan waktu operasional terbatas akibat kendala pasokan bahan bakar.

Dengan hadirnya PLTS, pasokan listrik menjadi lebih stabil, ramah lingkungan, dan hemat biaya. Pemerintah berharap pengembangan energi terbarukan ini mampu menghadirkan sistem kelistrikan yang lebih andal, bersih, dan berkelanjutan hingga ke pelosok negeri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *