Trump dan Netanyahu Sepakat Tekan Iran Lebih Keras

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (AP Photo/Alex Brandon)
INDOSBERITA.ID.WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan menyepakati peningkatan tekanan ekonomi terhadap Iran guna menekan program nuklir negara tersebut.
Laporan Shafaq News pada Minggu (15/2/2026) menyebutkan bahwa kedua pemimpin sepakat mendorong strategi “tekanan maksimum” untuk memaksa Teheran memberikan konsesi terkait pengembangan nuklirnya. Pejabat Amerika Serikat mengungkapkan, seperti dikutip Axios, Washington juga tetap mempertahankan kesiapan militernya di kawasan Timur Tengah sebagai bagian dari langkah antisipatif.
Kesepakatan prinsip tersebut dicapai dalam pertemuan di Gedung Putih pada Rabu (11/2/2026). Trump dan Netanyahu sama-sama menegaskan komitmen mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Namun, perbedaan pendekatan di antara keduanya tetap terlihat.
Netanyahu berpandangan Iran tidak dapat dipercaya untuk mematuhi kesepakatan apa pun. Sebaliknya, Trump menunjukkan sikap lebih optimistis bahwa jalur diplomasi masih memungkinkan.
“Kita lihat apakah itu mungkin. Mari kita coba,” kata Trump, merujuk pada peluang tercapainya kesepakatan baru.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Swiss sebelumnya mengungkapkan bahwa Amerika Serikat dan Iran tengah menyiapkan putaran kedua dialog nuklir di Jenewa, Swiss. Pertemuan itu menjadi kelanjutan dari pembicaraan tidak langsung pertama yang berlangsung pada Jumat (6/2/2026) di Muscat, Oman.
Baik Washington maupun Teheran menilai dialog awal berjalan cukup konstruktif, meskipun jurang perbedaan masih lebar. Iran menegaskan perundingan harus difokuskan secara eksklusif pada isu nuklir dan menolak pembahasan soal pembatasan kemampuan rudal.
Sementara itu, pemerintahan Trump menginginkan kesepakatan yang lebih komprehensif. Selain penghentian pengayaan uranium, Washington juga mendorong Iran menghentikan dukungan terhadap sekutu-sekutunya di kawasan, termasuk Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, serta kelompok bersenjata di Irak.




