Stunting Merangin Merosot Tajam, Dari 1.109 Kini Tinggal 638 Balita

Foto Ilustrasi ChatGPT Image.
INDOSBERITA.ID.MERANGIN – Pemerintah Kabupaten Merangin mencatat kemajuan signifikan dalam upaya menekan angka stunting. Data evaluasi terbaru menunjukkan jumlah balita terdampak stunting turun dari 1.109 balita pada Juni 2026 menjadi 638 balita pada Agustus 2026.
Capaian tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam rapat koordinasi evaluasi percepatan penurunan stunting bersama Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia Sekretariat Wakil Presiden, Edi Cahyono Sugiarto.
Edi Cahyono Sugiarto juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pelaksana Bidang Advokasi dan Komitmen Kepemimpinan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Pusat.
Sekretaris Daerah (Sekda) Merangin, Zulhifni, memimpin rapat secara daring pada Kamis (27/8/2026) dari Ruang MPC Bappeda. Sejumlah pejabat lintas sektor turut mengikuti rapat, antara lain Asisten I, Kepala Bappeda, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum, serta perwakilan DPPKB, Dinas Kesehatan, dan DPMD.
Balita di Sekitar Dapur MBG Jadi Prioritas
Sekda Zulhifni meminta seluruh jajaran terkait memperkuat strategi percepatan penanganan masalah gizi. Ia secara khusus meminta perangkat daerah memprioritaskan balita terdampak stunting yang tinggal di sekitar Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Anak-anak terdampak stunting yang berada di sekitar Dapur MBG harus menjadi prioritas utama pemenuhan gizinya. Kita manfaatkan keberadaan fasilitas ini agar dampak intervensinya lebih cepat terasa dan angka stunting di Merangin bisa kita tekan hingga ke level seminimal mungkin,” tegas Zulhifni.
Menurutnya, keberadaan Dapur MBG dapat memperkuat pemenuhan kebutuhan gizi anak, terutama bagi balita yang membutuhkan perhatian lebih. Pemerintah daerah akan terus mengoptimalkan koordinasi lintas sektor agar intervensi berjalan tepat sasaran.
Pemkab Ingin Pertahankan Tren Positif
Penurunan jumlah balita terdampak stunting dari 1.109 menjadi 638 dalam dua bulan menunjukkan perkembangan positif dalam upaya pemerintah daerah menangani masalah gizi anak.
Meski demikian, Pemkab Merangin tetap perlu menjaga konsistensi intervensi agar capaian tersebut terus berlanjut. Pemerintah daerah bersama TPPS Pusat mendorong kolaborasi antara sektor kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan, pembangunan desa, dan program MBG.
Sinergi tersebut menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat pencegahan sekaligus menangani balita yang masih membutuhkan intervensi gizi.
Pemkab Merangin menargetkan tren penurunan stunting terus berlanjut hingga angka balita terdampak berada pada level seminimal mungkin. Pemerintah juga akan mengoptimalkan fasilitas Dapur MBG sebagai salah satu pendukung pemenuhan gizi anak di wilayah sasaran.



