Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa akses pelayaran tetap dibuka secara selektif. Menurutnya, kapal dari negara yang tidak dianggap sebagai musuh atau tidak terlibat dalam serangan terhadap Iran masih dapat melintas dengan koordinasi terlebih dahulu dengan otoritas Teheran.
Salah satu negara yang dipastikan tetap diizinkan melintas adalah Jepang, yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah melalui jalur tersebut.
Selain Jepang, sejumlah negara lain seperti China, India, Pakistan, Malaysia, dan Irak juga disebut mendapat perlakuan khusus untuk menjaga kelancaran jalur perdagangan dan energi.
Sebelumnya, ketegangan di kawasan tersebut meningkat setelah laporan menyebut adanya serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang berdampak pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Laporan dari Lloyd’s List juga mencatat setidaknya sembilan kapal telah melewati jalur alternatif di sekitar perairan Iran, termasuk wilayah dekat Pulau Larak, yang memungkinkan pengawasan ketat oleh otoritas setempat.
Dalam laporan tersebut, pemimpin redaksi Lloyd’s List, Richard Meade, menyebut adanya pola pergerakan kapal yang semakin jelas di kawasan tersebut. Ia menilai rute pelayaran kini menunjukkan pola yang mudah dikenali, seiring meningkatnya pengawasan dan penyesuaian jalur navigasi oleh kapal-kapal dagang.
Kebijakan transit selektif ini dinilai dapat mempengaruhi stabilitas perdagangan global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia.