Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa jagung memiliki potensi besar untuk dikembangkan tidak hanya sebagai pakan ternak, tetapi juga sebagai bahan baku industri pangan. Diversifikasi pemanfaatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi komoditas sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tren produksi jagung yang terus meningkat. Pada periode Januari hingga Maret 2026, potensi produksi diperkirakan mencapai 4,94 juta ton atau naik lebih dari empat persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dukungan surplus dan stok cadangan sekitar 4,5 juta ton dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga pemerintah optimistis impor tidak diperlukan.
Sebagai bentuk perlindungan terhadap petani, pemerintah juga menetapkan harga pembelian jagung di tingkat produsen sebesar Rp5.500 per kilogram. Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga sekaligus mendorong petani meningkatkan produksi.
Selama ini, sebagian besar jagung nasional digunakan untuk kebutuhan pakan unggas. Namun, pemerintah mulai memperluas pasar ke sektor industri pangan, terutama industri pengolahan pati dan produk turunannya, dengan kebutuhan sekitar 450.000 ton per tahun.
Untuk memastikan ketersediaan bahan baku yang sesuai standar industri, Kementan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk perusahaan pengolahan pangan PT Tereos FKS Indonesia serta produsen benih PT Restu Agropro Jayamas di Jawa Timur.
Direktur Hilirisasi Hasil Tanaman Pangan, Tiurmauli Silalahi, menjelaskan bahwa penguatan kemitraan antara petani dan industri menjadi kunci keberlanjutan pasokan. Pemerintah juga terus melakukan sosialisasi dan menjalin kerja sama dengan daerah-daerah sentra jagung untuk memastikan produksi berjalan stabil.
Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Yudi Sastro, menilai perkembangan teknologi pengolahan membuka peluang lebih luas bagi hilirisasi jagung. Dengan strategi tersebut, jagung diharapkan berkembang menjadi komoditas strategis yang tidak hanya menopang sektor peternakan, tetapi juga berperan penting dalam pertumbuhan industri pangan nasional dan peningkatan kesejahteraan petani.