Prabowo Lantik Quraish Shihab Jadi Wantimpres, Ini Perjalanan Karier Sang Cendekiawan

Muhammad Quraish Shihab saat dilantik menjadi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026 (Foto: Tangkapan Layar/Sekretariat Presiden)
INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Muhammad Quraish Shihab menambah babak baru dalam perjalanan panjangnya di dunia keilmuan, keagamaan, dan pemerintahan. Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Nama Quraish Shihab selama ini dikenal luas melalui pemikiran tentang Al-Qur’an dan karya tafsirnya. Namun, perjalanan pria kelahiran Rappang, Sulawesi Selatan, 16 Februari 1944 itu tidak hanya berkutat pada dunia keagamaan. Ia juga pernah memimpin perguruan tinggi, menjabat Menteri Agama, hingga menjalankan tugas diplomatik sebagai Duta Besar RI.
Quraish merupakan anak keempat dari 12 bersaudara. Ayahnya, Abdurrahman Shihab, merupakan guru besar Tafsir Al-Qur’an sekaligus salah satu pendiri Universitas Muslim Indonesia Makassar.
Menempuh Pendidikan hingga ke Universitas Al-Azhar
Quraish mengawali pendidikan dasar di Makassar. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan menengah di Malang sambil memperdalam ilmu agama di pesantren.
Pada 1958, Quraish berangkat ke Kairo, Mesir, untuk menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar. Ia meraih gelar Lc dari Fakultas Ushuluddin pada 1967 dengan fokus Tafsir dan Hadis.
Dua tahun kemudian, Quraish menyelesaikan pendidikan magister bidang Tafsir Al-Qur’an melalui penelitian tentang kemukjizatan Al-Qur’an.
Setelah kembali ke Indonesia, ia mengembangkan karier akademiknya di IAIN Alauddin Ujung Pandang. Quraish juga mengemban tugas sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan serta Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah VII Indonesia Timur.
Ambisinya dalam memperdalam ilmu Al-Qur’an kembali membawanya ke Mesir pada 1980. Quraish menempuh pendidikan doktoral di Universitas Al-Azhar dan meraih gelar doktor bidang Tafsir pada 1982 dengan predikat Summa Cum Laude.
Pernah Pimpin MUI dan Menjadi Menteri Agama
Pada 1984, Quraish mulai mengajar di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada tahun yang sama, ia juga mengemban amanah sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.
Kariernya terus berkembang. Pada 1989, Quraish bergabung dengan Lajnah Pentashih Al-Qur’an Departemen Agama dan Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional.
Tahun 1992 menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan kariernya. Quraish memimpin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai rektor selama dua periode.
Ia kemudian memasuki pemerintahan ketika Presiden mengangkatnya sebagai Menteri Agama pada 1998. Setahun berselang, Quraish menjalankan tugas diplomatik sebagai Duta Besar RI untuk Mesir yang merangkap Djibouti dan Somalia hingga 2002.
Mendirikan Pusat Studi Al-Qur’an
Setelah kembali ke Indonesia, Quraish tetap aktif mengembangkan kajian Al-Qur’an. Pada 2004, ia mendirikan Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) yang berfokus pada pendidikan, penelitian, dan pengembangan literasi Al-Qur’an.
Lembaga tersebut juga mengembangkan kaderisasi mufasir serta membuka ruang dialog keagamaan dan kebangsaan.
Selain bidang pendidikan dan keagamaan, Quraish turut berkiprah dalam pengembangan ekonomi syariah. Ia pernah menjalankan peran pengawasan syariah di Bank Muamalat Indonesia.
Pada 2008, Quraish menjabat Ketua Dewan Pengawas Syariah CIMB Niaga. Sepuluh tahun kemudian, ia juga mengemban posisi serupa di Bank Tabungan Negara (BTN).
Tafsir Al-Mishbah Jadi Karya yang Melekat
Di dunia literasi, Quraish Shihab dikenal melalui berbagai buku yang membahas tafsir, Al-Qur’an, dan kehidupan keagamaan. Salah satu karya terkenalnya, Tafsir Al-Mishbah, hadir dalam 15 volume dan mulai terbit pada 2003.
Karya tersebut memperkuat kiprahnya sebagai salah satu cendekiawan Muslim yang aktif menjelaskan kandungan Al-Qur’an kepada masyarakat.
Quraish juga menerima sejumlah penghargaan atas kontribusinya dalam bidang keilmuan dan keagamaan. Pada 2005, ia menerima Bintang Mahaputera Adipradana.
Pemerintah Mesir kemudian menganugerahinya Grand Cordon of the Order of Sciences and Arts tingkat pertama pada 2020.




