Perang Dagang AS Diprediksi Masih Terkendali

Perang Dagang AS Diprediksi Masih Terkendali

Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)

INDOSBERITA.ID NEW YORK – Arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat diperkirakan belum akan memicu gejolak besar dalam waktu dekat. Lembaga riset global BCA Research menilai eskalasi perang dagang relatif terkendali hingga 2026, sebelum berpotensi kembali meningkat setelahnya.

Dalam laporan yang dikutip dari Investing.com, Minggu (22/2/2026), BCA menyebut faktor politik domestik dan pembatasan hukum menjadi penghalang utama kenaikan tarif agresif tahun ini. Pemerintah dinilai tidak leluasa memperluas kebijakan tarif tanpa dukungan legislatif yang kuat.

Putusan terbaru Mahkamah Agung Amerika Serikat mempersempit penggunaan kewenangan darurat untuk menerapkan tarif secara luas. Keputusan itu memperkuat peran Kongres dalam menentukan arah kebijakan perdagangan, sehingga ruang manuver presiden menjadi lebih terbatas.

Meski demikian, Presiden Donald Trump tetap menunjukkan sikap tegas dalam isu perdagangan. Namun, menjelang pemilihan paruh waktu, langkah yang terlalu agresif berisiko memicu tekanan inflasi dan mengganggu sentimen pelaku usaha.

BCA memperkirakan pemerintah kemungkinan akan memanfaatkan instrumen yang lebih sempit, seperti tarif sementara berbasis regulasi perdagangan yang sudah ada. Kebijakan tersebut dinilai hanya berdampak moderat terhadap tingkat tarif efektif dan tidak cukup untuk memicu gelombang perang dagang baru dalam waktu dekat.

Di sisi lain, pasar global justru dibayangi ketegangan geopolitik, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran. Mandeknya pembicaraan nuklir dan peningkatan aktivitas militer di kawasan Teluk memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak dunia.

BCA bahkan memperkirakan peluang sekitar 38 persen terjadinya guncangan besar di pasar energi. Jika skenario itu terjadi, volatilitas akibat lonjakan harga minyak berpotensi lebih dominan dibandingkan dampak kebijakan tarif.

Menurut laporan tersebut, pemerintah AS kemungkinan akan mendorong pendekatan kompromi atau kesepakatan perdagangan bertahap guna menjaga stabilitas ekonomi menjelang pemilu. Dengan begitu, isu tarif untuk sementara waktu dinilai menjadi faktor sekunder dalam pergerakan pasar.

Dalam situasi penuh ketidakpastian ini, BCA melihat pengawasan institusional dari pengadilan, Kongres, dan bank sentral dapat meredam risiko kebijakan. Hal tersebut berpotensi menjaga daya tarik aset safe haven AS, seperti obligasi pemerintah dan dolar, di tengah tekanan global yang masih membayangi. (Zr)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *