Manis di Pasar, Produksi Gula Merah Kerinci Tersendat Bahan Baku

Pengrajin Gula Merah di Kerinci Keluhkan Bahan Baku,Untuk Produksi Gula Merah.
INDOSBERITA.ID.KERINCI – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, permintaan gula merah di Kabupaten Kerinci terus mengalami peningkatan. Pemanis alami ini menjadi salah satu bahan yang banyak dicari masyarakat, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sebagai bahan utama berbagai kuliner tradisional yang kerap disajikan saat bulan puasa.
Namun, meningkatnya kebutuhan pasar belum sepenuhnya dapat diimbangi oleh kapasitas produksi. Sejumlah pengrajin gula merah di wilayah Sungai Bermas, Kecamatan Siulak, mengaku kesulitan memenuhi permintaan yang terus bertambah dari hari ke hari.
Keterbatasan pasokan tebu menjadi faktor utama yang membatasi produksi. Ketidakstabilan ketersediaan bahan baku membuat pengrajin tidak dapat meningkatkan jumlah produksi secara optimal, meski peluang pasar terbuka lebar.
Salah seorang pengrajin gula merah, Retmisal, mengatakan bahwa saat ini produksinya masih berada di kisaran 800 kilogram hingga satu ton per minggu. Gula merah tersebut dipasarkan dengan harga antara Rp10.000 sampai Rp11.000 per kilogram.
“Produksi sebenarnya bisa ditambah, asalkan bahan baku tebu mencukupi,” ujar Retmisal, Senen (9/2/2026).
Retmisal menilai, gula merah merupakan komoditas yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Kabupaten Kerinci. Ia berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah, khususnya dalam mendorong petani lokal untuk menanam tebu secara berkelanjutan.
Menurutnya, jika petani dan pengrajin dapat disinergikan, tidak hanya kebutuhan pasar yang terpenuhi, tetapi juga dapat membuka peluang peningkatan pendapatan bagi petani tebu di daerah tersebut.
Dengan dukungan kebijakan dan kerja sama berbagai pihak, produksi gula merah di Kerinci diharapkan mampu mengimbangi lonjakan permintaan, terutama pada momentum bulan Ramadan yang setiap tahunnya menjadi periode puncak konsumsi.




