Harga Plastik Melonjak, Picu Gejolak Harga Minyak Goreng di Pasar

Bukan CPO, Ini Penyebab Utama Naiknya Harga Minyak Goreng Menurut PASPI
INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Kenaikan harga minyak goreng di pasar belakangan ini bukan semata dipicu oleh harga bahan baku utama. Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, Tungkot Sipayung, menilai faktor utama justru berasal dari lonjakan biaya kemasan plastik yang ikut menekan harga jual produk, termasuk Minyakita.
Menurutnya, gangguan pasokan bahan baku plastik global yang dipicu ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah berdampak pada naiknya harga energi fosil dunia. Kondisi ini kemudian berimbas pada naiknya harga nafta, bahan utama industri plastik.
“Ketika harga energi fosil naik dari sekitar 60 dolar AS menjadi lebih dari 110 dolar AS per barel, semua produk turunannya ikut terdampak, termasuk plastik,” ujarnya di Jakarta, Minggu (25/4/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan biaya plastik ini secara tidak langsung memengaruhi harga berbagai produk kebutuhan sehari-hari, termasuk minyak goreng kemasan. Pasalnya, komponen kemasan menjadi bagian penting dalam struktur biaya produksi.
Di Indonesia sendiri, terdapat tiga jenis minyak goreng sawit yang beredar di masyarakat, yakni minyak goreng kemasan premium, Minyakita yang menyasar masyarakat berpendapatan rendah, serta minyak goreng curah untuk kebutuhan industri pangan.
Dari ketiga jenis tersebut, pemerintah hanya mengatur harga dan distribusi Minyakita melalui kebijakan Domestic Market Obligation (DMO), sistem penyaluran, serta penetapan harga eceran tertinggi (HET). Sementara itu, minyak goreng premium dan curah mengikuti mekanisme pasar.
Meski terjadi kenaikan pada minyak goreng premium dan curah dalam beberapa bulan terakhir, harga Minyakita justru menunjukkan tren penurunan. Dalam periode Januari hingga April 2026, harga Minyakita tercatat turun dari Rp16.865 menjadi Rp15.949 per liter, mendekati HET yang ditetapkan sebesar Rp15.700.
Tungkot menilai penurunan ini merupakan dampak dari kebijakan DMO yang membuat pasokan tetap terjaga di pasar. Namun, ia juga mempertanyakan keberlanjutan harga tersebut ke depan jika biaya kemasan terus meningkat.
“Pertanyaannya adalah apakah harga ini bisa bertahan jika biaya plastik terus naik. Ini akan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah dalam menyesuaikan struktur harga,” katanya.




