Kerinduan Bocah 8 Tahun kepada Rasulullah SAW, Kisahnya Membuat Syaikh Ad-Diba’i Menangis

Foto Ilustrasi Gemini Google.
INDOSBERITA.ID.YAMAN – Kisah kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak hanya hadir dari kalangan orang dewasa. Dalam sebuah kisah yang dinukil dalam literatur Maulid Ad-Diba’i, seorang anak laki-laki berusia sekitar 8 tahun disebut memiliki kerinduan yang begitu besar kepada Rasulullah SAW.
Kerinduan tersebut bahkan membuat Syaikh Abdurrahman Ad-Diba’i terharu dan menangis. Ulama asal Yaman itu dikenal sebagai penyusun Maulid Ad-Diba’i.
Dalam kisah tersebut, Syaikh Ad-Diba’i bersama rombongan dari Zabid, Yaman, melakukan perjalanan menuju Madinah untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Perjalanan itu disebut berlangsung sekitar dua pekan.
Sebelum rombongan berangkat, seorang anak berusia sekitar 8 tahun datang menemui Syaikh Ad-Diba’i. Ia meminta izin untuk ikut bersama rombongan menuju Madinah.
“Wahai Syaikh, izinkan aku ikut berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW,” pinta anak tersebut.
Syaikh Ad-Diba’i awalnya tidak mengizinkan. Ia khawatir perjalanan panjang akan menyulitkan rombongan jika membawa seorang anak kecil.
Sang ulama kemudian menanyakan alasan anak itu begitu ingin ikut. Anak tersebut menjawab dengan kalimat yang menunjukkan kerinduannya kepada Rasulullah SAW.
“Wahai Syaikh, percayalah. Aku sangat merindukan Rasulullah SAW,” jawabnya.
Meski mendengar jawaban tersebut, Syaikh Ad-Diba’i tetap meminta anak itu tinggal di rumah. Rombongan kemudian berangkat menuju Madinah.
Diam-Diam Ikut Rombongan
Sesampainya di Madinah, Syaikh Ad-Diba’i justru di kejutkan dengan kehadiran anak tersebut. Ia kemudian menanyakan bagaimana anak itu bisa sampai ke Madinah.
Dalam kisah tersebut, anak itu mengaku menyelinap ke dalam sebuah peti ketika rombongan meninggalkan Yaman. Ia kemudian ikut dalam perjalanan hingga tiba di Madinah.
Syaikh Ad-Diba’i merasa heran. Ia mempertanyakan bagaimana anak tersebut bisa bertahan selama perjalanan yang berlangsung sekitar dua pekan.
“Selama dua minggu perjalanan, dari mana engkau makan dan minum?” tanya sang ulama.
Anak tersebut kemudian menjawab bahwa rasa rindunya kepada Rasulullah SAW membuatnya tidak memikirkan makanan dan minuman.
“Wahai Syaikh, aku seakan di lupakan dari makan dan minum karena begitu rindu kepada Rasulullah SAW,” tuturnya.
Setelah itu, anak tersebut melihat tanah yang mereka pijak. Ia kemudian bertanya kepada Syaikh Ad-Diba’i apakah tanah tersebut pernah di injak Nabi Muhammad SAW.
Syaikh Ad-Diba’i menjawab bahwa tanah itu pernah di injak Rasulullah SAW.
Mendengar jawaban tersebut, anak itu mengambil tanah di hadapannya lalu menciumnya.
Tak lama kemudian, anak tersebut terjatuh. Dalam kisah yang di nukil, ia di sebut meninggal dunia saat berada di Madinah.
Rombongan kemudian memakamkannya di luar Kota Madinah karena anak tersebut merupakan pendatang dari luar wilayah tersebut.
Kisah Makam yang Di sebut Bergeser
Dalam perjalanan pulang, Syaikh Ad-Diba’i kembali teringat kepada anak tersebut. Ia kemudian mendatangi makamnya untuk berziarah.
Dalam kisah yang di nukil dalam Maulid Ad-Diba’i, Syaikh Ad-Diba’i di sebut terkejut ketika melihat makam anak tersebut. Makam yang sebelumnya berada di luar Kota Madinah itu di kisahkan berangsur-angsur bergeser mendekati makam Rasulullah SAW.
Kisah tersebut membuat Syaikh Ad-Diba’i menangis. Ia mengenang besarnya kecintaan anak tersebut kepada Nabi Muhammad SAW.
“Aku adalah seorang imam, tetapi aku malu melihat kecintaan seorang anak kecil yang begitu besar kepada Rasulullah SAW,” demikian ungkapan yang di nukil dalam kisah tersebut.
Kisah itu kemudian menjadi salah satu cerita yang di kaitkan dengan Maulid Ad-Diba’i dan menggambarkan besarnya kerinduan seorang anak kepada Rasulullah SAW.
Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dapat di wujudkan dengan mengenal perjalanan hidup beliau, meneladani akhlaknya, memperbanyak selawat, serta mengikuti ajaran yang di sampaikannya.
Sumber:Sindonews



