Lebih dari 6.000 Warga Gaza Alami Amputasi, Anak-anak Ikut Jadi Korban

Lebih dari 6.000 Warga Gaza Alami Amputasi, Anak-anak Ikut Jadi Korban

Anak Palestina,foto Gemini IA

INDOSBERITA.ID.PALESTINA – Lebih dari 6.000 warga di Jalur Gaza mengalami amputasi sejak perang dimulai. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat angka tersebut di tengah keterbatasan alat medis dan perlengkapan rehabilitasi.

Kondisi itu membuat banyak pasien kesulitan mendapatkan layanan pemulihan dan kaki palsu. Kelangkaan bahan medis juga menghambat fasilitas kesehatan dalam memenuhi kebutuhan pasien yang terus bertambah.

Anak-anak Jadi Bagian dari Ribuan Korban Amputasi

Husni Muhanna, petugas media dan humas Pusat Prostetik dan Paralisis Gaza, mengatakan anak-anak mencapai sekitar 25 persen dari pasien yang menerima layanan di fasilitas tersebut.

Menurut Muhanna, anak-anak membutuhkan penanganan khusus setelah menjalani amputasi. Mereka memerlukan program rehabilitasi yang sesuai dengan kondisi tubuh dan usia.

Pertumbuhan tubuh juga membuat anak-anak membutuhkan penyesuaian kaki palsu secara berkala. Kondisi tersebut menambah tantangan bagi tenaga medis dan pusat rehabilitasi di Gaza.

Persediaan Alat Medis Semakin Terbatas

Muhanna mengatakan pembatasan masuknya berbagai kebutuhan medis dan teknis membuat pusat prostetik kesulitan memenuhi permintaan pasien.

Pusat tersebut juga menghadapi kekurangan peralatan dan bahan untuk membuat kaki palsu. Salah satu bahan yang sulit mereka dapatkan ialah gips yang memiliki peran penting dalam proses pembuatan alat bantu tersebut.

Jumlah pasien yang membutuhkan kaki palsu terus bertambah. Namun, keterbatasan persediaan membuat fasilitas kesehatan harus menghadapi kebutuhan yang jauh lebih besar dibandingkan kemampuan layanan mereka.

Data WHO Catat Ribuan Kasus Amputasi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat ribuan pasien amputasi di Gaza. Data WHO menunjukkan 2.277 orang menjalani pemeriksaan terkait amputasi sepanjang September 2024 hingga Mei 2026.

Dari jumlah tersebut, sekitar 18 persen merupakan anak-anak. WHO juga mencatat sekitar 76 persen kasus melibatkan anggota tubuh bagian bawah.

Data WHO dan data Kementerian Kesehatan Gaza memiliki cakupan yang berbeda. Karena itu, kedua angka tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung sebagai jumlah keseluruhan kasus amputasi.

Layanan Rehabilitasi Menghadapi Tekanan Berat

Perang juga menimbulkan cedera serius dan disabilitas jangka panjang bagi banyak warga Palestina. Kerusakan rumah sakit dan fasilitas kesehatan semakin menyulitkan pasien untuk mendapatkan perawatan lanjutan.

Otoritas kesehatan Palestina dan sejumlah organisasi kemanusiaan terus menyoroti keterbatasan alat medis dan perlengkapan rehabilitasi di Gaza.

Mereka menilai kebutuhan pasien dengan cedera dan disabilitas jangka panjang membutuhkan dukungan medis yang lebih besar. Tanpa pasokan yang memadai, fasilitas kesehatan akan semakin kesulitan memberikan layanan rehabilitasi dan menyediakan kaki palsu bagi para korban.

Sumber:Sindonews

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *