Tergiur Lowongan Kerja di Media Sosial, Dua Warga Jepang Disekap Sindikat Internasional di Surabaya

Tergiur Lowongan Kerja di Media Sosial, Dua Warga Jepang Disekap Sindikat Internasional di Surabaya

WARGA JEPANG DISEKAP – Rumah tempat sindikat kejahatan di Surabaya yang digrebek polisi Indonesia beberapa bulan lalu, tempat dua wanita Jepang ditipu yami baito dan disekap. Modus yang semula hanya dikenal sebagai penipuan daring telah berkembang menjadi jaringan kejahatan transnasional yang menjebak warga dengan iming-iming pekerjaan bergaji tinggi, kemudian menyekap dan memaksa mereka bekerja sebagai pelaku penipuan. Foto NTV/Richard Susilo

INDOSBERITA.ID.SURABAYA – Pemerintah Jepang memperketat pengawasan terhadap sindikat penipuan lintas negara yang merekrut korban melalui media sosial dengan kedok lowongan kerja. Modus tersebut berkembang menjadi jaringan kejahatan transnasional yang menyekap korban dan memaksa mereka menjalankan aksi penipuan.

Kasus itu mencuat setelah aparat kepolisian Indonesia menyelamatkan dua perempuan asal Jepang dalam penggerebekan markas sindikat penipuan internasional di Surabaya pada April 2026.

Tergiur lowongan kerja di media sosial

Laporan investigasi Nippon TV (NTV) yang tayang Sabtu, 19 Juli 2026, mengungkap bahwa kedua korban menemukan tawaran pekerjaan melalui iklan di media sosial. Setelah menerima tawaran tersebut, mereka berangkat ke Indonesia dan kemudian masuk ke sebuah rumah yang menjadi markas sindikat.

Salah satu korban, perempuan berusia 30-an asal wilayah Kanto, mengaku awalnya percaya bahwa iklan tersebut menawarkan pekerjaan yang sah.

“Itu ternyata lowongan kerja palsu. Saya menemukannya di media sosial,” katanya.

Korban lainnya, perempuan berusia 40-an, tertarik karena iklan tersebut menawarkan pekerjaan sebagai hand carry dokumen dari luar negeri ke Jepang dengan bayaran tinggi.

“Ada lowongan sebagai hand carry untuk mengambil dokumen dari luar negeri. Karena saya juga suka bepergian ke luar negeri, saya pikir bisa sekaligus berwisata,” ujarnya.

Disekap dan diancam

Setibanya di Surabaya, para pelaku menjemput kedua perempuan itu dan membawa mereka ke sebuah rumah di kawasan perumahan, beberapa kilometer dari pusat kota.

Korban berusia 30-an menceritakan bahwa situasi berubah drastis begitu mereka memasuki rumah tersebut.

“Begitu masuk, gerbang langsung dikunci. Suasananya sangat aneh. Ada pria-pria berkebangsaan China bertelanjang dada berkeliaran,” katanya.

Melalui aplikasi penerjemah di telepon genggam, para pelaku menyampaikan ancaman yang membekas di ingatan korban.

“Kalian sudah dijual seharga 25.000 dolar AS. Tidak ada jalan lain selain bekerja di sini. Selamat datang di dunia neraka.”

Korban lainnya mengaku panik dan tidak mengetahui nasib yang akan menimpanya.

“Saya sangat ketakutan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya.”

Ancaman perdagangan organ

Para pelaku menutup rapat rumah tersebut dengan papan dan busa pada jendela, serta memasang teralis besi di balkon sehingga korban sulit melarikan diri.

Ketika salah satu korban memohon agar diizinkan pulang dan menawarkan uang pengganti sebesar 25.000 dolar AS dari keluarganya, para pelaku justru mengancam akan menjual mereka kepada kelompok kejahatan lain.

“Kalau mencoba kabur atau melapor ke polisi, kalian akan di pindahkan ke kelompok lain untuk perdagangan organ tubuh, prostitusi, atau mengalami hal yang lebih buruk,” kata pelaku, menurut kesaksian korban.

Ancaman tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi para korban.

“Saya benar-benar takut. Saya bahkan tidak ingin mengingatnya lagi,” kata salah satu korban.

Berhasil di selamatkan

Harapan muncul pada hari ketiga penyekapan. Sebelum para pelaku menyita telepon genggamnya, korban berusia 30-an sempat mengaktifkan fitur berbagi lokasi kepada suaminya di Jepang.

Sang suami kemudian meneruskan informasi lokasi tersebut melalui Konsulat Jenderal Jepang kepada aparat kepolisian Indonesia. Berdasarkan informasi itu, polisi melakukan penyelidikan dan menggerebek lokasi penyekapan hingga kedua perempuan tersebut berhasil di selamatkan.

“Kalau suami saya tidak menyelamatkan kami waktu itu, mungkin sekarang kami sudah tidak selamat. Jangan pernah mudah percaya dan berangkat begitu saja,” katanya.

Korban lainnya juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan di media sosial.

“Hidup Anda bisa hancur. Percayalah pada firasat jika merasa ada yang tidak beres, dan jangan pernah berangkat.”

Dalam beberapa tahun terakhir, otoritas Jepang terus mengingatkan masyarakat tentang meningkatnya perekrutan melalui media sosial dengan iming-iming pekerjaan bergaji tinggi, perjalanan ke luar negeri, atau tugas sederhana seperti membawa dokumen.

Sumber:Kaltimtribun

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *