Konflik PETI di Tebo Memanas, Ketua BPD Teluk Langkap Sebut Keluarganya Jadi Korban Penyerangan
oleh Asep Sanjaya ·

Sejumlah rakit dompeng atau rakit tambang emas ilegal tampak beraktivitas di atas aliran Sungai Bataghari, di Desa Teluk Langkap, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.(Tangkapan layar video amatir warga)
INDOSBERITA.ID.TEBO – Konflik sosial kembali memanas di Desa Teluk Langkap, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo. Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Sungai Batanghari memicu ketegangan antara warga yang menolak dan kelompok yang tetap menjalankan penambangan.
Dalam sebulan terakhir, ketegangan sudah terjadi sedikitnya dua kali. Warga yang menolak PETI berupaya menghentikan aktivitas tambang dengan menyalakan petasan dan menggunakan ketapel sebagai bentuk protes. Namun, para penambang tetap melanjutkan aktivitas mereka hingga mendekati kawasan permukiman.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Teluk Langkap, Firdaus, menjadi salah satu tokoh yang secara terbuka menolak keberadaan PETI. Sikap tersebut, menurut pengakuannya, berujung pada aksi kekerasan yang menimpa dirinya dan keluarganya.
Firdaus mengaku telah dua kali mengalami dugaan penganiayaan. Pada insiden terakhir, Selasa (14/7/2026), ia menyebut istrinya mengalami kekerasan fisik. Setelah itu, beberapa orang kembali mendatangi rumahnya. Firdaus mengaku sempat mengalami pencekikan dan menerima ancaman pembunuhan.
Ia kemudian melaporkan kedua peristiwa tersebut ke Polres Tebo dan meminta aparat mengusut kasus itu secara menyeluruh.
PETI Dinilai Mengancam Permukiman Warga
Firdaus mengatakan sebagian besar warga kini mendukung aktivitas PETI. Sementara itu, hanya segelintir warga yang masih menolak karena khawatir terhadap dampak lingkungan.
Menurutnya, penambangan emas ilegal berpotensi memicu longsor di tepi Sungai Batanghari. Kondisi itu mengancam rumah-rumah warga yang berada sangat dekat dengan bibir sungai.
Firdaus menyebut saat ini terdapat sekitar 300 rakit dompeng yang beroperasi di kawasan tersebut.
Ia menjelaskan, warga sebelumnya telah menyepakati batas area penambangan. Namun, para penambang diduga tidak lagi mematuhi kesepakatan tersebut.
“Rumah saya dan rumah warga lainnya hanya berjarak sekitar tiga meter dari Sungai Batanghari. Sekarang rakit tambang sudah sangat dekat dengan permukiman. Kondisi ini mengancam keselamatan kami,” ujar Firdaus, Rabu (15/7/2026).
Warga Soroti Penanganan Aparat
Firdaus berharap Polres Tebo menangani laporan dugaan penganiayaan secara serius sekaligus mengambil langkah tegas terhadap aktivitas PETI.
Sejumlah warga juga menyoroti penanganan aparat saat mendatangi lokasi tambang pada Selasa (14/7/2026). Mereka mengaku aktivitas penambangan tetap berlangsung meski polisi berada di lokasi.
Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan mesin dompeng tetap beroperasi ketika petugas melakukan pemantauan.
Video yang beredar di masyarakat memperlihatkan sejumlah personel kepolisian berada di sekitar lokasi, sementara rakit-rakit dompeng masih beraktivitas di aliran Sungai Batanghari.
Warga berharap aparat segera mengambil tindakan agar konflik tidak semakin meluas. Mereka khawatir bentrokan antarwarga kembali terjadi apabila aktivitas PETI terus berlangsung tanpa penanganan yang tegas.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Polres Tebo terkait laporan dugaan penganiayaan maupun penanganan aktivitas PETI di Desa Teluk Langkap.
Sumber:Kompas.com



