Negara dengan Kuota Haji Terbanyak,Jadi Warga Negara Ini Bisa Cepat Berangkat Haji

Credit photo via The Siasat Daily,Jabal Rahmah
INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Menunaikan ibadah haji merupakan impian besar bagi umat Islam di seluruh dunia. Sebagai rukun Islam kelima, ibadah ke Tanah Suci menjadi penyempurna bagi mereka yang memiliki kemampuan secara fisik maupun finansial. Namun, tingginya minat masyarakat untuk berhaji sering kali harus berhadapan dengan keterbatasan kuota yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi.
Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia menjadi salah satu negara dengan jumlah calon jemaah haji terbanyak. Pada musim haji 2026, Indonesia kembali memperoleh kuota terbesar di dunia, yakni sebanyak 221.000 jemaah.
Meski demikian, besarnya kuota tersebut belum mampu mengimbangi tingginya jumlah pendaftar. Akibatnya, masa tunggu keberangkatan haji di sejumlah daerah masih mencapai belasan hingga puluhan tahun. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang mendaftarkan anaknya sejak usia dini agar bisa berangkat saat dewasa.
Berbeda dengan Indonesia yang menerapkan sistem antrean berdasarkan nomor porsi, sejumlah negara lain menggunakan mekanisme undian tahunan atau sistem registrasi digital untuk menentukan calon jemaah yang berangkat setiap musim haji.
Pakistan, misalnya, memperoleh kuota 179.210 jemaah pada musim haji tahun ini. Negara tersebut menerapkan sistem undian digital tahunan sehingga tidak mengenal antrean puluhan tahun. Calon jemaah yang belum terpilih harus kembali mendaftar pada musim berikutnya.
Sistem serupa juga diterapkan di India yang memperoleh kuota 175.000 jemaah. Melalui mekanisme undian digital berbasis wilayah, proses seleksi dilakukan setiap tahun tanpa menggunakan sistem antrean jangka panjang.
Sementara itu, Bangladesh yang mendapatkan kuota 127.000 jemaah menggunakan sistem registrasi berbasis portal digital. Masa tunggu keberangkatan di negara tersebut relatif lebih singkat dibanding Indonesia.
Di kawasan Afrika, Nigeria menjadi negara dengan kuota terbesar dengan jumlah 66.910 jemaah. Meski mengalami pengurangan kuota dibanding musim sebelumnya, Nigeria tetap menjadi salah satu penyumbang jemaah haji terbesar dari benua tersebut.
Negara lain yang juga memperoleh kuota cukup besar antara lain Ethiopia sebanyak 43.000 jemaah, Aljazair 43.300 jemaah, Turki 37.770 jemaah, Mesir 35.375 jemaah, dan Irak 34.000 jemaah.
Masing-masing negara memiliki sistem pengelolaan keberangkatan yang berbeda. Turki dan Irak, misalnya, mengombinasikan sistem kuota wilayah dengan undian elektronik, sementara Aljazair mengandalkan pendaftaran daring yang diawasi ketat untuk mencegah praktik percaloan.
Perbedaan sistem tersebut menunjukkan bahwa tantangan penyelenggaraan haji tidak hanya berkaitan dengan jumlah kuota, tetapi juga bagaimana negara mengelola proses pendaftaran dan keberangkatan jutaan calon jemaah setiap tahunnya.
Bagi Indonesia, kuota terbesar di dunia memang menjadi keuntungan tersendiri. Namun dengan jumlah pendaftar yang terus bertambah dari tahun ke tahun, masa tunggu panjang masih menjadi pekerjaan rumah yang belum mudah untuk diselesaikan.



