Sukses Besar Como 1907 di Serie A, Kenapa Belum Ada Pemain Indonesia

Sukses Besar Como 1907 di Serie A, Kenapa Belum Ada Pemain Indonesia

Pelatih Como 1907 asal Spanyol Cesc Fabregas dalam persiapan Serie A Italia musim 2024/2025. (Instagram Como 1907)

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Kesuksesan Como 1907 menembus papan atas Liga Italia musim 2025-2026 ikut membangkitkan antusiasme besar publik sepak bola Indonesia. Klub milik pengusaha Indonesia itu kini tak lagi dipandang sebagai tim kecil setelah sukses mengamankan tiket Liga Champions musim depan.

Di bawah arahan pelatih Cesc Fabregas, Como tampil mengejutkan dengan finis di posisi keempat klasemen Serie A, hanya berada di bawah Inter Milan, Napoli, dan AS Roma. Pencapaian tersebut menjadi salah satu cerita paling menarik di sepak bola Italia musim ini.

Keberhasilan Como tak lepas dari sosok Presiden klub, Mirwan Suwarso. Kehadiran pria asal Indonesia itu membuat banyak pecinta sepak bola Tanah Air berharap suatu saat ada pemain Indonesia yang bisa mengenakan seragam Como di Serie A.

Namun hingga kini, belum ada pemain Indonesia yang tampil di skuad utama klub berjuluk I Lariani tersebut.

Mirwan mengakui dirinya sering menerima pertanyaan soal peluang pemain Indonesia bermain di Como. Akan tetapi, ia menegaskan proses tersebut tidak semudah yang dibayangkan karena terbentur regulasi ketat Serie A.

“Peluang pasti selalu ada. Tapi di Italia, klub hanya boleh memiliki dua pemain non-Uni Eropa,” kata Mirwan dalam podcast YouTube Helmy Yahya Bicara.

Aturan tersebut, menurut Mirwan, berlaku sangat ketat bahkan hingga level akademi dan pemain muda. Karena itu, setiap slot pemain non-Eropa harus digunakan dengan sangat hati-hati.

“Kalau kami mengambil pemain usia 16 tahun, slot di tim senior otomatis berkurang. Jadi pemain yang dipilih benar-benar harus spesial,” ujarnya.

Persaingan pun tidak ringan. Como harus bersaing dengan talenta-talenta terbaik dari Brasil, Argentina, Uruguay hingga Afrika untuk memperebutkan slot terbatas tersebut.

Mirwan mengungkapkan klubnya sempat mencoba merekrut pemain muda dari Irak dan Gambia. Namun kerasnya kompetisi sepak bola Italia membuat keduanya gagal bertahan dalam proyek jangka panjang klub.

Saat ini, pemain non-Eropa di skuad Como didominasi pemain Brasil yang sebelumnya telah memiliki pengalaman bermain di kompetisi elite Eropa.

Meski belum ada pemain Indonesia di lapangan, Mirwan menegaskan kontribusi anak bangsa sebenarnya sudah hadir di berbagai sektor klub. Mulai dari analis asal Bandung, tim media sosial, produksi kreatif, hingga legenda sepak bola Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto yang pernah menjadi staf pelatih Como.

“Kami banyak memberi kesempatan untuk analis, pelatih, dan tim kreatif dari Indonesia,” katanya.

Di balik performa impresif Como, klub ini ternyata dibangun menggunakan pendekatan modern berbasis data. Mirwan menyebut Como mengembangkan sistem football management yang terinspirasi konsep Moneyball.

Como bahkan sempat bekerja sama dengan Billy Beane, tokoh revolusioner analisis data olahraga Amerika Serikat yang kisahnya diangkat dalam film Moneyball.

Selain itu, Como juga mempelajari model pengembangan klub milik Brighton dan Liverpool sebelum akhirnya menciptakan sistem sendiri.

“Kami menggunakan data sebagai dasar semua keputusan sepak bola,” ujar Mirwan.

Dalam proses perekrutan pemain, Como memanfaatkan analisis ribuan data pemain dari berbagai liga dunia sebelum dipantau langsung oleh tim pencari bakat. Evaluasi karakter, perilaku, hingga aspek finansial juga menjadi bagian penting dalam proses seleksi.

Pendekatan tersebut membuat Como mampu bersaing di Serie A tanpa harus menghamburkan dana besar untuk membeli pemain bintang.

Tak hanya fokus di lapangan, Como juga membangun proyek besar di sektor sports tourism. Klub berupaya mengangkat kawasan Danau Como menjadi destinasi wisata olahraga dengan melibatkan hotel, pelaku retail, hingga komunitas lokal.

“Banyak orang bilang kami membangun kota. Sebenarnya kami sedang membangun ekosistem sports tourism,” tutur Mirwan.Dikutip dari Tribunnews

Popularitas Como yang terus meningkat bahkan disebut berdampak pada pertumbuhan industri pariwisata di kawasan tersebut, termasuk bertambahnya hotel-hotel mewah dalam beberapa tahun terakhir.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *