Bakso Cuanki, Kuliner Legendaris yang Bertahan dan Beradaptasi di Era Digital

Bakso-Cuanki-Top.jpg (1024×768)
INDOSBERITA.ID.KULINER – Di tengah derasnya arus kuliner modern dan makanan kekinian, bakso cuanki tetap bertahan sebagai salah satu jajanan jalanan yang tak kehilangan penggemar. Hidangan khas berbahan dasar bakso kecil, tahu, siomay kering, dan kuah kaldu gurih ini masih menjadi favorit masyarakat dari berbagai kalangan.
Tidak hanya populer di Kota Bandung sebagai daerah asalnya, cuanki kini telah menjelma menjadi kuliner yang mudah ditemui di berbagai kota di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, makanan ini kembali naik daun, terutama di kalangan anak muda yang gemar mengeksplorasi cita rasa tradisional.
Nama “cuanki” sendiri berasal dari singkatan “Cari Uang Jalan Kaki”, yang merujuk pada para pedagang keliling zaman dulu yang menjajakan dagangannya dengan berjalan kaki. Kuliner ini mulai dikenal luas sejak era 1970-an di Bandung dan sekitarnya, sebelum akhirnya berkembang pesat seperti sekarang.
Perubahan zaman turut mengubah cara penjualannya. Jika dahulu cuanki identik dengan pikulan keliling kampung, kini banyak yang beralih ke bentuk kedai sederhana hingga pemesanan melalui platform daring.
Salah satu penjual cuanki di Bandung Utara, Dedi Suhendar (45), mengaku permintaan cuanki tetap stabil bahkan meningkat pada momen tertentu.
“Kalau hujan biasanya pembeli bisa naik dua kali lipat. Orang cari makanan hangat, cuanki jadi pilihan utama,” ujarnya, Jumat (8/5).
Dalam satu porsi cuanki, biasanya berisi bakso kecil, tahu putih, siomay kering, hingga pangsit goreng yang disiram kuah kaldu sapi panas. Sensasi gurih dan hangat inilah yang membuatnya tetap digemari.
Seiring berkembangnya tren kuliner, inovasi juga mulai bermunculan. Beberapa penjual kini menghadirkan varian seperti cuanki pedas, cuanki mozzarella, hingga tambahan topping tulang rangu untuk menarik minat konsumen muda.
Fenomena ini turut ramai di media sosial, di mana banyak konten kreator kuliner membagikan pengalaman mencicipi cuanki versi modern. Hal ini dinilai ikut membantu memperluas popularitas makanan tradisional tersebut.
Pengamat kuliner Bandung, Rina Permatasari, menilai cuanki merupakan contoh sukses kuliner tradisional yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.
“Cuanki punya rasa yang sederhana tapi kuat. Saat diberi sentuhan inovasi, justru makin menarik tanpa menghilangkan akar tradisionalnya,” jelasnya.
Saat ini, cuanki tidak hanya bertahan di kaki lima, tetapi juga telah masuk ke layanan pesan antar makanan online. Kehadiran di platform digital membuat jangkauan pasar semakin luas, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, hingga Yogyakarta.
Harga yang relatif terjangkau, berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp25 ribu per porsi, juga menjadi salah satu faktor yang membuat cuanki tetap digemari berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga pekerja kantoran.
Meski demikian, para pedagang menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku, terutama daging sapi dan tepung. Namun demikian, banyak yang tetap berupaya menjaga kualitas rasa demi mempertahankan pelanggan setia.
Dengan perpaduan cita rasa klasik, inovasi modern, dan harga yang bersahabat, cuanki membuktikan dirinya sebagai kuliner jalanan yang tak lekang oleh waktu.




