Pakar Pendidikan Anak dan Remaja dari IPB University, Dr. Yulina Eva Riany, menegaskan bahwa fenomena ini tidak dapat disederhanakan sebagai bentuk kemalasan. Menurutnya, terdapat dimensi psikologis yang kompleks di balik perilaku tersebut, terutama terkait proses perkembangan remaja dalam mencari identitas diri.
Ia menjelaskan bahwa remaja berada pada fase identity vs role confusion, yakni masa ketika individu aktif mengeksplorasi jati diri, termasuk melalui ruang digital. Dalam kondisi ini, berdiam di tempat tidur sambil mengakses dunia maya bisa menjadi bentuk jeda dari tekanan sosial sekaligus sarana eksplorasi diri.
“Dalam beberapa kondisi, bed rotting bisa menjadi ruang jeda psikologis. Namun di sisi lain, juga dapat menjadi bentuk penarikan diri dari tekanan,” ujarnya dalam keterangan resmi IPB University, Minggu (26/4/2026).
Meski demikian, Yulina mengingatkan bahwa fenomena ini berada di area abu-abu antara self-care dan perilaku yang kurang sehat. Jika masih dalam kendali individu, kebiasaan tersebut dapat berfungsi sebagai pemulihan energi. Namun jika berlangsung berlebihan dan mengganggu aktivitas harian, maka dapat menjadi tanda masalah yang lebih serius.
Ia juga menyoroti risiko paparan media sosial saat seseorang berada dalam kondisi pasif. Konten yang menampilkan kehidupan ideal kerap memicu perbandingan sosial yang dapat berujung pada kecemasan hingga memperburuk kondisi mental.
Dalam beberapa kasus, lanjutnya, “bed rotting” bisa menjadi indikasi awal gangguan kesehatan mental seperti burnout, kecemasan berlebih, hingga depresi. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain menurunnya minat beraktivitas, gangguan tidur, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.
Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun pola istirahat yang sehat dan terkontrol. Istirahat yang baik bukan sekadar berhenti beraktivitas, tetapi proses pemulihan yang disadari dan memiliki batas waktu.
“Istirahat yang sehat bukan hanya soal tidak melakukan apa-apa, tetapi dilakukan dengan kesadaran dan tetap dalam kendali,” jelasnya.
Yulina juga menyarankan agar penggunaan gawai di tempat tidur dibatasi, serta mengganti aktivitas pasif dengan kegiatan ringan seperti peregangan atau berjalan santai.
Fenomena “bed rotting” pada akhirnya menjadi pengingat bahwa di era digital saat ini, bahkan cara beristirahat pun perlu dikelola dengan bijak agar tidak berubah menjadi kebiasaan yang berdampak negatif bagi kesehatan mental.