Krisis Energi 2026 Lampaui Krisis Minyak 1973

Ilustrasi krisis minyak. (ChatGPT)
INDOSBERITA.ID.TEHERAN – Krisis energi global kembali memanas pada 2026, dengan dampak yang dinilai lebih besar dibandingkan krisis minyak 1973. Gangguan pasokan kali ini dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berimbas langsung pada jalur distribusi energi dunia.
Menurut International Energy Agency, skala gangguan saat ini melampaui krisis 1973. Penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz oleh Iran menghentikan aliran lebih dari 20 juta barel minyak per hari, atau sekitar seperlima konsumsi global.
Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan krisis 1973, ketika embargo negara-negara Arab hanya memangkas sekitar 4,5 juta barel per hari. Saat itu, tekanan terjadi akibat keputusan negara anggota OAPEC yang menghentikan ekspor ke negara pendukung Israel.
Lonjakan harga juga mencerminkan tekanan pasar yang signifikan. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya berada di kisaran US$66 per barel kini melonjak hingga menembus US$100 per barel hanya dalam waktu singkat.
Krisis 1973 sendiri dipicu oleh konflik Timur Tengah saat Mesir dan Suriah menyerang Israel dalam perang yang dikenal sebagai Perang Yom Kippur. Respons negara-negara Arab berupa embargo minyak menyebabkan kelangkaan energi di Amerika Serikat dan Eropa.
Saat itu, harga minyak melonjak tajam dari di bawah US$3 menjadi lebih dari US$12 per barel. Dampaknya meluas ke berbagai sektor, mulai dari antrean panjang di pompa bensin hingga kebijakan penghematan energi seperti pembatasan penggunaan kendaraan dan pengurangan hari kerja di sejumlah negara.
Pada krisis 2026, dampak serupa mulai terlihat. Harga bahan bakar di berbagai negara melonjak tajam, bahkan di beberapa wilayah Amerika Serikat mencapai lebih dari US$5 per galon dan lebih tinggi di wilayah tertentu seperti California.
Kenaikan harga juga dirasakan di negara-negara berkembang, terutama di Asia yang sangat bergantung pada impor energi. Sebagian besar pasokan minyak kawasan ini masih melewati Selat Hormuz, menjadikannya sangat rentan terhadap gangguan distribusi.
Perbedaan utama antara dua krisis ini terletak pada sumber gangguan. Jika krisis 1973 dipicu oleh embargo terkoordinasi sejumlah negara, krisis 2026 lebih dipengaruhi oleh kontrol satu titik distribusi vital dunia.
Meski dunia saat ini telah melakukan diversifikasi energi sejak krisis 1973—termasuk pengembangan energi alternatif dan sumber baru—ketergantungan terhadap jalur strategis seperti Selat Hormuz masih sangat tinggi.
Kondisi ini membuat krisis energi 2026 berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian global, terutama bagi negara-negara Asia yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia saat ini.




