SPPG Dorong Ekonomi Desa dan Semangat Sekolah Anak

Petugas saat menyiapkan hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jawa Barat. ANTARA/Rubby Jovan
INDOSBERITA.ID JAKARTA –Â Program Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) mulai menunjukkan dampak nyata, tidak hanya bagi pemenuhan gizi anak sekolah tetapi juga bagi perekonomian masyarakat sekitar. Sejumlah SPPG kini berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi desa sekaligus mendukung pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG).
Di Sumba Barat Daya, misalnya, SPPG Kadi Wano di Wewewa Timur menjadi contoh bagaimana program ini memberi manfaat luas. Di bawah pengelolaan Edwin Putra Kadege, dapur SPPG tidak hanya menyediakan makanan bagi ribuan siswa, tetapi juga meningkatkan semangat belajar anak-anak yang sebelumnya kerap datang ke sekolah tanpa sarapan.
Para guru setempat melaporkan bahwa sejak program MBG berjalan, kehadiran dan antusiasme siswa meningkat. Anak-anak terlihat lebih bersemangat mengikuti kegiatan belajar meskipun harus menempuh perjalanan jauh dari rumah ke sekolah.
Temuan ini selaras dengan hasil penelitian Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) mengenai dampak awal program MBG terhadap kesejahteraan anak. Survei yang dilakukan di sejumlah daerah di Jawa Tengah menunjukkan banyak orang tua merasakan perubahan positif pada kondisi anak mereka, mulai dari lebih ceria hingga lebih jarang sakit setelah menerima makanan bergizi di sekolah.
Selain berdampak pada kesehatan dan pendidikan, keberadaan SPPG juga membantu memperkuat ekonomi lokal. Di SPPG Kadi Wano, kebutuhan bahan pangan seperti sayur-mayur sebagian besar dipasok oleh kelompok tani setempat. Skema ini memberikan kepastian pasar bagi petani sehingga hasil panen mereka dapat langsung terserap.
Hal serupa terjadi di SPPG Cibuntu, Kecamatan Taraju, Tasikmalaya. Pengelola setempat berhasil membangun kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari petani hingga pedagang pasar dan pemuda desa. Sebagian besar bahan pangan yang digunakan berasal dari produksi lokal.
Kehadiran SPPG bahkan mendorong perubahan pola tanam petani. Warga mulai menanam komoditas yang sebelumnya didatangkan dari luar daerah agar dapat memenuhi kebutuhan dapur SPPG. Dengan begitu, perputaran ekonomi desa menjadi lebih aktif.
Pengelola SPPG menilai keberhasilan program tidak hanya dilihat dari distribusi makanan, tetapi juga dari kualitas layanan yang diberikan kepada anak-anak. Kebersihan dapur, kualitas bahan baku, serta pengaturan menu sesuai kebutuhan gizi siswa menjadi perhatian utama agar program berjalan berkelanjutan.
Selain itu, keterlibatan sekolah juga dianggap penting dalam proses distribusi makanan. Guru dilibatkan untuk memastikan setiap siswa menerima makanan dengan baik dan merasa diperhatikan. Bahkan, beberapa SPPG juga menjalankan kegiatan sosial tambahan, seperti membantu fasilitas sekolah dan memberikan dukungan bagi anak-anak yang membutuhkan.
Dengan berbagai dampak tersebut, program MBG melalui SPPG kini mulai dipandang sebagai salah satu penggerak baru bagi kesejahteraan masyarakat desa sekaligus mendukung masa depan pendidikan anak-anak di daerah.(zr)




