BI Waspadai Dampak Konflik Iran-Israel terhadap Rupiah

Perry Warjiyo. (Beritasatu.com/Akmalal Hamdhi)
INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Bank Indonesia (BI) meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak konflik yang kian memanas di Timur Tengah antara Iran dan Israel terhadap stabilitas ekonomi global maupun domestik. Ketegangan yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 dinilai berpotensi memberi tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa eskalasi konflik tersebut telah memperburuk prospek perekonomian global serta meningkatkan gejolak di pasar keuangan internasional. Dampaknya terlihat dari pelemahan mata uang di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.
Berdasarkan data BI, nilai tukar rupiah pada 16 Maret 2026 tercatat di posisi Rp16.985 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sekitar 1,29 persen dibandingkan akhir Februari, seiring tekanan yang juga dialami mata uang emerging market lainnya.
Menurut Perry, konflik di kawasan Timur Tengah turut memicu lonjakan harga minyak dunia yang berdampak pada terganggunya rantai pasok perdagangan global. Kondisi tersebut berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.
Selain itu, ketidakpastian global mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang lebih aman. Hal ini tercermin dari penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, serta meningkatnya arus keluar modal dari negara berkembang.
BI juga menyoroti meningkatnya defisit fiskal Amerika Serikat yang dipicu kebutuhan pembiayaan, termasuk untuk konflik. Kondisi ini berpotensi menahan penurunan suku bunga acuan oleh Federal Reserve, sehingga tekanan terhadap pasar keuangan global bisa berlangsung lebih lama.
Dalam menghadapi situasi tersebut, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Kebijakan ini diambil guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengendalikan inflasi.
Ke depan, BI menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk merespons dinamika global yang berkembang, termasuk potensi eskalasi konflik. Langkah antisipatif dinilai penting agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang meningkat.




