88 Persen Huntara Korban Banjir Gayo Lues Rampung

88 Persen Huntara Korban Banjir Gayo Lues Rampung

Hunian sementara (huntara) warga terdampak banjir bandang di Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Dokumentasi/ Bakom RI

INDOSBERITA.ID GAYO LUES – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak banjir bandang di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, hampir selesai. Hingga 10 Maret 2026, sebanyak 1.518 unit huntara telah dibangun atau sekitar 88 persen dari total target 1.713 unit.

Kepala BNPB Letjen Suharyanto mengatakan pemerintah terus mempercepat pembangunan agar masyarakat yang masih tinggal di tenda pengungsian dapat segera menempati hunian yang lebih layak. Ia menargetkan seluruh warga terdampak sudah tidak lagi berada di tenda sebelum Hari Raya Idulfitri 2026.

“Kami pastikan menjelang Lebaran 2026, masyarakat di Kabupaten Gayo Lues sudah tidak ada lagi yang tinggal di tenda,” ujar Suharyanto, Kamis, 12 Maret 2026.

BNPB juga menyiapkan tempat penampungan sementara yang lebih layak bagi warga yang masih menunggu pembangunan huntara selesai. Salah satunya dengan memanfaatkan gedung balai latihan kerja milik pemerintah daerah.

Upaya pembangunan huntara ini merupakan bagian dari percepatan pemulihan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025.

Di Gayo Lues, beberapa kompleks hunian komunal sudah mulai ditempati warga. Salah satunya berada di Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, yang dihuni sekitar 150 kepala keluarga. Selain itu, di Desa Rigeb, Kecamatan Dabun Gelang, sebanyak 133 kepala keluarga juga telah menempati hunian yang dilengkapi fasilitas dasar seperti air bersih dan listrik.

Setiap unit huntara dibangun dengan fasilitas kamar mandi dan toilet untuk mendukung kebutuhan dasar penghuninya. BNPB juga memberikan bantuan logistik berupa makanan dan perlengkapan bagi warga yang baru menempati hunian sementara.

Bantuan tersebut diberikan selama 10 hari pertama sejak warga masuk ke huntara, sebelum mereka menerima bantuan jaminan hidup dari pemerintah pusat. Program ini diharapkan dapat membantu warga memenuhi kebutuhan dasar sekaligus mempercepat proses pemulihan kehidupan pascabencana.(Zr)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *