Iran Cari Pemimpin Baru Usai Khamenei Wafat

Ilustrasi kursi pemimpin agung Iran yang kosong setelah kematiannya dalam serangan udara Israel-AS. (Telegram IRGC)
INDOSBERITA.ID JAKARTA –Â Iran memasuki babak baru dalam dinamika politiknya setelah media pemerintah memastikan wafatnya Ali Khamenei menyusul serangan gabungan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. Kabar tersebut sebelumnya telah disinggung oleh Presiden AS Donald Trump dan diperkuat pernyataan resmi pejabat Israel.
Pengumuman resmi disampaikan oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melalui saluran komunikasinya. Dalam pernyataan tersebut, Khamenei disebut gugur sebagai syuhada akibat serangan yang ditujukan pada pusat-pusat strategis di Iran.
Kepergian Khamenei menandai berakhirnya lebih dari tiga dekade kepemimpinannya sejak 1989. Sebagai Pemimpin Tertinggi, ia memegang otoritas tertinggi dalam struktur politik dan militer Iran, termasuk kendali atas kebijakan luar negeri serta angkatan bersenjata.
Kini perhatian tertuju pada proses suksesi yang akan ditentukan oleh Majelis Ahli, lembaga beranggotakan 88 ulama senior yang berwenang memilih Pemimpin Tertinggi baru. Sejumlah nama telah mencuat sebagai kandidat potensial.
Putra kedua Khamenei, Mojtaba Khamenei, disebut memiliki pengaruh signifikan di lingkaran kekuasaan dan hubungan erat dengan IRGC. Namun, isu suksesi keluarga dinilai sensitif dalam sistem Republik Islam yang lahir dari revolusi anti-monarki.
Nama lain yang mengemuka adalah Alireza Arafi, ulama senior yang menjabat wakil ketua Majelis Ahli dan memiliki pengalaman panjang di lembaga keagamaan serta pemerintahan. Ia dipandang memiliki kapasitas administratif kuat, meski tidak dikenal sebagai figur politik dominan.
Dari kalangan konservatif, Mohammad Mehdi Mirbagheri muncul sebagai kandidat dengan pandangan ideologis keras dan sikap tegas terhadap Barat. Posisinya dinilai dapat mempertahankan garis kebijakan konfrontatif Iran di panggung internasional.
Sementara itu, Hassan Khomeini, cucu pendiri Republik Islam Ruhollah Khomeini, memiliki legitimasi historis kuat. Namun, pengaruh politik dan kedekatannya dengan struktur keamanan dinilai terbatas.
Nama lain yang disebut adalah Hashem Hosseini Bushehri, wakil ketua pertama Majelis Ahli yang memiliki posisi strategis dalam proses formal pemilihan, meski berprofil relatif rendah di panggung politik nasional.
Proses pemilihan pemimpin baru diperkirakan akan menjadi momen krusial bagi arah kebijakan domestik dan hubungan luar negeri Iran, terutama di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.(Zr)




