Dolar AS Melemah di Tengah Tekanan Inflasi dan Geopolitik

Dolar AS Melemah di Tengah Tekanan Inflasi dan Geopolitik

Dolar AS. Foto: Freepik.

INDOSBERITA.ID NEW YORK – Nilai tukar dolar Amerika Serikat kembali mengalami pelemahan pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB). Tekanan terhadap mata uang Negeri Paman Sam muncul setelah rilis data inflasi produsen Januari 2026 yang melampaui ekspektasi, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan laporan Xinhua, indeks dolar—yang mengukur kinerja dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia—turun 0,19 persen ke posisi 97,608.

Pada penutupan perdagangan di New York, euro menguat ke level USD1,1819 dari USD1,1786 pada sesi sebelumnya. Poundsterling Inggris juga naik menjadi USD1,3475 dari USD1,3470. Sementara itu, dolar AS melemah terhadap yen Jepang ke posisi 155,95 dari sebelumnya 156,34.

Terhadap franc Swiss, dolar turun menjadi 0,7679 dari 0,7747. Dolar AS juga terkoreksi terhadap dolar Kanada ke 1,3630 dari 1,3687, serta terhadap krona Swedia menjadi 9,0200 dari 9,0631.

Data dari Investing.com menunjukkan Indeks Harga Produsen (PPI) untuk permintaan akhir naik 0,5 persen pada Januari 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi ekonom sebesar 0,3 persen. Sebelumnya, PPI Desember 2025 direvisi turun menjadi 0,4 persen dari laporan awal 0,5 persen.

Kepala analis mata uang di investingLive, Adam Button, menyebut pasar saat ini masih dibayangi kekhawatiran terhadap arah inflasi dan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026. Menurutnya, ekspektasi perlambatan inflasi belum tercermin secara jelas dalam data terbaru.

Meski kenaikan PPI dinilai cukup signifikan, sebagian tekanan berasal dari sektor jasa perdagangan, yang menurut Biro Statistik Tenaga Kerja dihitung dengan metode yang tidak selalu mencerminkan perubahan harga secara langsung di lapangan.

Di sisi kebijakan moneter, Federal Reserve diperkirakan menahan suku bunga acuannya setidaknya hingga Juni mendatang karena inflasi yang masih relatif tinggi. Namun, pelaku pasar mulai memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga hingga 60 basis poin sebelum akhir tahun, seiring munculnya tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja AS.(Zr)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *