AS Kirim Menlu ke Israel di Tengah Ketegangan dengan Iran

Amerika Serikat kini meminta staf Kedubes AS di Israel evakuasi seiring meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut. (Google)
INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan rencana kunjungan mendadak Menteri Luar Negeri Marco Rubio ke Israel pada awal pekan depan. Lawatan yang dijadwalkan berlangsung 2–3 Maret 2026 itu digelar di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Iran.
Kunjungan tersebut difokuskan pada pembahasan isu-isu strategis kawasan, termasuk perkembangan situasi keamanan regional, kondisi di Lebanon, serta implementasi “Rencana Perdamaian 20 Poin” yang diusung Presiden Donald Trump untuk Gaza. Meski agenda pertemuan telah ditetapkan, detail pembicaraan masih dirahasiakan.
Pengumuman lawatan itu bertepatan dengan keputusan Kedutaan Besar AS di Yerusalem yang menetapkan status “authorized departure”. Kebijakan ini memungkinkan staf non-esensial dan keluarga diplomat meninggalkan Israel secara sukarela menyusul meningkatnya risiko keamanan.
Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, dalam pesan internalnya meminta seluruh staf mempertimbangkan langkah keberangkatan lebih awal. Ia mengingatkan bahwa penerbangan komersial masih tersedia, namun situasi dapat berubah sewaktu-waktu sehingga kesiapan evakuasi menjadi hal penting.
Ketegangan terbaru dipicu kegagalan putaran ketiga negosiasi nuklir antara Iran dan AS di Jenewa. Kedua pihak belum mencapai titik temu, meski pembicaraan teknis lanjutan direncanakan berlangsung di Wina pekan depan. Kebuntuan tersebut meningkatkan kekhawatiran akan potensi eskalasi militer di kawasan.
Kecemasan global turut diperkuat laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang menyebut belum adanya akses penuh bagi pengawas PBB ke sejumlah fasilitas nuklir Iran yang terdampak konflik sebelumnya. Kondisi ini mempersulit verifikasi terhadap aktivitas pengayaan uranium Teheran.
Sejumlah maskapai internasional mulai menangguhkan penerbangan ke Tel Aviv. Maskapai Belanda, KLM, termasuk di antara yang menghentikan sementara layanannya. Selain Amerika Serikat, beberapa negara lain juga mengambil langkah antisipatif dengan memulangkan staf diplomatik maupun warganya dari kawasan tersebut.
Langkah-langkah ini menunjukkan meningkatnya kewaspadaan internasional terhadap potensi memburuknya situasi keamanan di Timur Tengah dalam waktu dekat.




