BRIN Bahaya Jangka Panjang Pencemaran Sungai Cisadane

BRIN Bahaya Jangka Panjang Pencemaran Sungai Cisadane

Petugas Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup memasang plang penyegelan di gudang pestisida milik PT. Biotek Saranatama di Kota Tangerang Selatan, Banten, Jumat (13/2/2026). Kementerian Lingkungan Hidup menyegel gudang pestisida yang didug

INDOSBERITA.ID JAKARTA –  Tumpahan zat kimia yang mencemari Sungai Cisadane dinilai tidak hanya berdampak sesaat, tetapi juga menyimpan ancaman kesehatan dalam jangka panjang. Periset dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ignasius Sutapa, mengingatkan adanya potensi bioakumulasi dan biomagnifikasi dari residu pestisida yang masuk ke ekosistem perairan.

Menurutnya, zat berbahaya yang terlarut di air dapat terserap oleh organisme kecil, lalu berpindah ke ikan dan predator tingkat lebih tinggi. Pada akhirnya, manusia yang mengonsumsi ikan dari sungai tercemar berisiko ikut terpapar. “Dampaknya bisa bersifat kronis karena racun terakumulasi dalam rantai makanan,” ujarnya, Minggu, 15 Februari 2026.

Ignasius menjelaskan, kontaminan kimia juga berpotensi mengendap di dasar sungai. Sedimen tersebut dapat menjadi sumber pelepasan racun sekunder sewaktu-waktu, terutama ketika terjadi perubahan arus atau aktivitas yang mengganggu lapisan dasar. Artinya, meski air terlihat kembali jernih, risiko toksik belum tentu sepenuhnya hilang.

Paparan terhadap pestisida, lanjut dia, dapat terjadi melalui berbagai jalur. Kontak langsung seperti mandi dan mencuci di sungai berisiko menyebabkan gejala akut, mulai dari mual, pusing, hingga gangguan saraf. Dalam paparan dosis tinggi, zat tertentu yang bersifat neurotoksik bahkan bisa berakibat fatal. Sementara dalam jangka panjang, paparan berulang berpotensi memicu gangguan hormon, kerusakan organ, serta meningkatkan risiko kanker.

Sebagai langkah darurat, ia menyarankan penutupan sementara intake air baku PDAM di wilayah terdampak serta peningkatan pemantauan kualitas air secara real-time. Edukasi kepada masyarakat juga dinilai penting agar warga tidak memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan apa pun sampai dinyatakan aman.

Untuk jangka panjang, Ignasius menekankan perlunya penguatan pengawasan terhadap pencemaran bahan berbahaya dan beracun (B3), penerapan sistem peringatan dini berbasis sensor kualitas air, serta diversifikasi sumber air baku. Restorasi ekosistem melalui rehabilitasi kawasan riparian juga dinilai krusial guna meningkatkan kemampuan alami sungai dalam menyaring polutan.

Ia mengimbau masyarakat tetap tenang namun waspada, mengikuti arahan resmi pemerintah dan PDAM, serta menghindari konsumsi ikan dari area terdampak hingga situasi benar-benar terkendali.(Zr)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *