Trump Pertimbangkan Kirim Kapal Induk Kedua ke Timur Tengah

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (AP Photo/Alex Brandon)
INDOSBERITA.ID.WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya tengah mempertimbangkan pengiriman kelompok serang kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah. Opsi tersebut disebut sebagai bagian dari strategi meningkatkan tekanan terhadap Iran di tengah kembali bergulirnya jalur diplomasi antara kedua negara.
Dalam wawancara dengan Axios pada Selasa (10/2/2026), Trump menyatakan bahwa keputusan tersebut masih dalam tahap pembahasan. “Kita sudah memiliki satu armada yang bergerak ke sana, dan kemungkinan satu lagi akan menyusul,” ujarnya.
Seorang pejabat senior AS turut mengonfirmasi bahwa diskusi internal sedang berlangsung mengenai pengerahan tambahan tersebut. Jika direalisasikan, kelompok penyerang kedua akan memperkuat kehadiran militer AS yang saat ini telah diwakili oleh USS Abraham Lincoln dan armadanya di kawasan.
Trump menegaskan bahwa langkah ini merupakan sinyal tegas kepada Teheran. Ia menggambarkan situasi yang dihadapi Iran sebagai pilihan yang jelas: mencapai kesepakatan atau menghadapi konsekuensi serius. “Kita bisa membuat kesepakatan, atau kita harus melakukan sesuatu yang sangat sulit seperti sebelumnya,” kata Trump.
Pernyataan tersebut merujuk pada operasi militer AS pada Juni 2025 yang menargetkan tiga fasilitas nuklir utama Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Saat itu, Washington menyatakan serangan dilakukan untuk menghambat pengembangan nuklir Iran. Trump menyiratkan bahwa tindakan tersebut telah mengubah kalkulasi politik di Teheran.
“Terakhir kali mereka tidak mengira saya benar-benar akan melakukannya,” ujar Trump, seraya menilai kepemimpinan Iran sebelumnya terlalu berani mengambil risiko dalam menghadapi tekanan Amerika.
Di tengah peningkatan tensi militer, jalur diplomasi tetap dibuka. Trump menyebut bahwa putaran kedua pembicaraan dengan pejabat Iran dijadwalkan berlangsung pekan depan. Ia menilai sikap Teheran kini lebih serius dibandingkan sebelumnya.
Presiden AS itu bahkan menyatakan optimisme bahwa kesepakatan komprehensif terkait program nuklir dan pembatasan rudal balistik Iran dapat dicapai. “Kesepakatan itu sebenarnya mudah dicapai. Kita bisa membuat kesepakatan yang hebat dengan Iran,” ujarnya.
Sementara itu, kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Gedung Putih pada Rabu (11/2/2026) turut menjadi sorotan. Trump membantah adanya perbedaan pandangan antara dirinya dan Netanyahu dalam menyikapi Iran. “Dia juga ingin kesepakatan—kesepakatan yang baik,” kata Trump.
Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan melanjutkan perundingan nuklir di Oman pada Jumat mendatang. Pertemuan tersebut menjadi yang pertama setelah proses negosiasi sempat terhenti hampir delapan bulan.
Dengan meningkatnya kehadiran militer AS di Teluk Persia, komunitas internasional kini menunggu apakah strategi tekanan maksimal ini akan membuka jalan bagi kompromi diplomatik atau justru memperbesar risiko eskalasi konflik di kawasan.




