Sungai Tuntang Meluap, Kereta Jakarta–Surabaya Terganggu

Sungai Tuntang Meluap, Kereta Jakarta–Surabaya Terganggu

Genangan banjir di jalur kereta api antara Stasiun Karangjati dan Stasiun Gubug, tepatnya di Kilometer 32 turut di Desa Papanrejo, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah pada Senin, 16 Februari 2026. (Beritasatu.com/Jamaah)

INDOSBERITA.ID.GROBONGAN – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Grobogan sejak dini hari menyebabkan Sungai Tuntang meluap pada Senin (16/2/2026). Akibatnya, dua jalur rel kereta api di lintas utara Jawa terendam banjir dan tidak dapat dilalui rangkaian kereta.

Genangan terpantau berada di antara Stasiun Karangjati dan Stasiun Gubug, tepatnya di Kilometer 32, Desa Papanrejo, Kecamatan Gubug. Ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar 50 sentimeter di atas permukaan rel, sehingga perjalanan kereta yang menghubungkan Jakarta–Surabaya terganggu total.

Arus air dari sungai mengalir deras ke area rel, membawa material lumpur dan sampah. Petugas dari PT Kereta Api Indonesia bersama warga setempat berupaya membersihkan sumbatan di sekitar jalur guna mempercepat surutnya air. Selain itu, tanggul darurat dari karung berisi tanah dan batu dipasang untuk menahan limpasan agar tidak merambah ke permukiman.

Seorang warga Desa Papanrejo, Ali Mahmudi, mengatakan air mulai naik sekitar pukul 06.30 WIB dan mencapai puncaknya menjelang siang. Menurutnya, jika tidak segera ditahan, air berpotensi masuk ke rumah-rumah warga di sekitar rel.

Manajemen KAI Daop 4 Semarang menyampaikan permohonan maaf atas gangguan perjalanan tersebut. Sejumlah langkah mitigasi telah dilakukan, termasuk menyiagakan alat berat jenis backhoe di lokasi untuk normalisasi jalur setelah banjir surut.

Selama proses penanganan, perjalanan kereta dialihkan melalui jalur selatan dan sebagian perjalanan dibatalkan. Penumpang yang terdampak keterlambatan signifikan akan mendapatkan kompensasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Hingga siang hari, genangan air masih cukup tinggi. Petugas teknis terus memantau kondisi struktur rel guna mengantisipasi potensi kerusakan tanah penopang (gogosan) yang dapat membahayakan keselamatan perjalanan setelah air surut.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *