Suluk Ramadan, Ruang Tenang dan Spiritual di Aceh

Warga Aceh tetap menjalankan Ramadan 2026 dengan khusyuk, meski Aceh diterpa bencana alam akibat banjir bandang. (Beritasatu.com/Wahyu Majiah)
INDOSBERITA.ID.JANTHO – Suasana hening menyelimuti kompleks Dayah Darul Aman di Gampong Lampuuk, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Dari lantai dua bangunan sederhana itu, lantunan zikir terdengar pelan mengalun, dipimpin seorang mursyid. Puluhan jemaah duduk bersila dengan kepala tertunduk, larut dalam kekhusyukan Ramadan 1447 Hijriah.
Di Aceh, bulan suci tak hanya diisi dengan tarawih dan tadarus. Tradisi suluk kembali dijalankan sebagai jalan spiritual untuk membersihkan hati dan memperdalam kedekatan kepada Allah Swt. Praktik ini menjadi ruang perenungan bagi mereka yang ingin menepi sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan.
Khadijah (60), salah satu peserta, mengaku telah mengikuti suluk selama tiga tahun terakhir. Ia merasakan perubahan besar dalam ketenangan batinnya. Trauma banjir yang sempat melanda wilayahnya perlahan mereda setelah rutin mengikuti suluk. Baginya, zikir yang dilakukan berulang-ulang menghadirkan rasa damai yang sulit digambarkan.
Wakil Ketua Yayasan Dayah Darul Aman, Teungku Saifullah, menyebutkan jumlah peserta tahun ini berkisar antara 80 hingga 100 orang. Angka tersebut sedikit menurun karena sebagian warga terdampak banjir sebelum Ramadan. Meski demikian, antusiasme tetap tinggi.
Pelaksanaan suluk di dayah itu digelar tiga kali setahun, termasuk selama 30 hari penuh di bulan Ramadan. Tahun ini, kegiatan dipimpin Abon Teungku Tajuddin dari Dayah Teungku Ulee Kareung sebagai khalifah dan mursyid. Amalan utama yang dijalankan adalah zikir ismuzat atau zikir qalbi—zikir dalam hati yang dilakukan dengan konsentrasi penuh.
Setiap jemaah diwajibkan melafalkan zikir sedikitnya 10.000 kali selepas salat fardu. Dalam sehari, jumlahnya dapat mencapai 50.000 kali. Rangkaian ibadah dimulai sebelum Subuh dan berlanjut hingga malam, mencakup wirid, tawajuh, pengajian, serta salat sunah.
Disiplin juga diterapkan dalam pola makan. Peserta tidak diperkenankan mengonsumsi makanan berlemak atau berbahan dasar hewani seperti daging dan telur. Menu berbuka disajikan sederhana, antara lain kurma, air putih, serta sambal daun pegagan (oen peugaga). Pembatasan ini dimaksudkan untuk menekan hawa nafsu dan menjaga fokus ibadah.
Tradisi suluk telah mengakar di Tanah Rencong selama berabad-abad, dibawa para ulama dari Timur Tengah dan berkembang selaras dengan budaya lokal. Jemaah yang datang ke Dayah Darul Aman berasal dari berbagai daerah, mulai dari Pidie, Aceh Timur, hingga Sabang dan wilayah barat selatan Aceh.
Di tengah dunia yang semakin sibuk, suluk menjadi ruang sunyi untuk memulihkan diri. Tanpa percakapan dan tanpa gawai, para jemaah memilih berdiam dalam zikir. Bagi mereka, inilah perjalanan batin untuk merawat luka, menata harapan, dan kembali ke kehidupan dengan jiwa yang lebih tenang.




